Selasa, 27 Maret 2012

pembahasan pengamatan, pengumpulan dan dokumentasi dan penilaian kinerja

                                      Manajemen kinerja sumber daya manusia
Tulisan : muhammad elhami c1b109067
Dengan pembahasan pengamatan, pengumpulan dan dokumentasi dan penilaian kinerja
Bagi aku sih cara belajar yang paling efektif dan efisien adalah dengan kerja kelompok dan persentase didepan kelas, kenapa karena memang disanalah kita dapat mengetahui kemampuan sesorang dalam berpikir, kemudian menjawab, menganalisis apabila ada pertanyaan yang di ajukan kepadanya. Ketepatan menjawab, tutur kata yang apik, dan kepercayaan diri dapat semua kita lihat pada saat mereka persentase didepan.
Ini nih yang dibahas temen-temen kelompok ezza dan liza ^_^
Apakah karyawan bisa mendokumentasikan apa yang dilakukannya diperusahaan, boleh dan bisa agar data-data yang dikumpulkan dapat terlengkapi, karena berhubungan dengan tingkat kinerja karyawan dan perusahaan. Dokumentasi perusahaan itu didapat dari hasil dokumentasi karyawan.
Dokumentasi berguna untuk melakukan penilaian dan pengambilan keputusan untuk manajer agar karyawan dapat ditempatkan sesuai dengan bidangnya, dan untuk membandingkan kinerja yang dulu dan kinerja yang sekarang dan yang akan datang.
Alur proses pengamatan, pengumpulan dan dokumentasi dalam sebuah perusaahaan adalah terlebih dahulu perusahaan megumpulan data-data tentang kinerja karyawan, kemudian setelah dikumpulkan maka dilakukanlah pengamatan-pengamatan untukmengetahai apakah kinerja karywan meningkat atau tidak, setelah semua di amati baru didokumentasikan untuk acuan perusahaan dalam pengambilan keputusan dan arah perusaah kedepan.
Semoga bermanfaat..........
Pengajar ibu hastin
14 ; 39 PM
Diruang 10
Rabu, 28/3

                                  Diskusi kelompok 4 sistem informasi manajemen :
                                               HACKER paling menarik dibahas


Hacker itu pembajak dalam dunia maya
Cracker itu lebih parah lagi karena bisa merusak-rusak file-file yang dikunjungi
Intinya keduanya sama-sama penjahat
Diskusi mata kuliah sistem informasi manajemen kali ini dibawakan oleh kelompok 4 tentang sumberdaya komputasi dan komunikasi cukup menarik walau awalnya terasa garing karena hanya membaca saja, tapi seiring berjalannya diskusi dengan dibuka beberapa pertanyaan akhirnya ada sebuah pembahasan yang cukup menarik yakni masalah hacker.
Temen-teman kelompok menjawab bahwa hacker adalah pengunjung yang mengunjungi salah satu situ punya seseorang namun, tidak merusak aplikasi, file-file yang ada di situs tersebut dia hanya melihat-lihat saja, sedangkan cracker adalah orang-orang yang bernjung ke situs seseorang tanpa izin dan merusak-rusak file-file dengan kejahatan.
Mengamati sampai sekarang kelompok yang paling baik dalam menyampaikan materi adalah kelompok 1, kami berniat nanti untuk menampilkan persentase kelompok kami kelompok 6 lebih baik lagi. Dua minggu lagi kami akan maju.....
Hedeeh nilai kuis aku lumayan parah setelah bu wimby membuka rame-rame dimuka ckckck
Lebih cermat lagi nih belajarnya...
Yang menentukan nilai kita sendiri adalah kita sendiri huh...
Midtest nanti soalnya pilihan ganda,,siaaapkan bos..
Diketik saat temen-temen kelompok 4 persentase
Selasa, 28/3
11 : 37 PM

Aku hanya ingin menulis, teman...!. (elhami)

                        Aku hanya ingin menulis, teman...!. (elhami)
catatan otak....

Bab 1
ah, dia mulai kembali lagi, tapi hanya sementara kayanya, walaupun sementara cukuplah membuatku senang.
"aku kira buat drafnya hari ini, eh ternyata tunggu si dia dulu baru buat," kataku dalam hati. al hasil besok katanya.
aku penasaran selanjutnya seperti apa ?
lagi-lagi rutinitasku mampu melupakannya. "aku duluan yaa, mau k'perpus nih," katanya sambil memasang sepatu. aku pun tak menolehnya karena aku kelelahan. pusing sih, tapi nikmat rasanya
pikiranku tertuju pada mata kuliah yang akan aku masuki jam 13.00 siang ini, hanya 7 orang ahh legaa, bisa tenang belajarnya nih. aku terkadang tak suka dengan banyak orang. ributnya kaya pasar huh.
Bab 2
Rasanya pengen cepat belajar aplikom. “eh elhami,” seorang dosen muncul membuatku terkejut, ternyata ibu maya, belia yang kemarin menguji aku pas finaltest praktik aplikom. “kemarin nilai aku d+ bu soalnya aku baru pertama kenal komputer pas masuk disni bu fakultas ekonomi, jadi nge save az ga bisa hehehe,” aku ceritakan sama beliau. “tapi sekarang sudah bisa kan,” ujarnya ingin mengetahui. “alhamdulillah sudah lumayan bu,” kataku mantap. Aku bertekad mata kuliah ini wajib berhasil, kan sekarang sudah punya netbok, jadi untuk latihan lumayan lah ^_^
Kuliah hari ini batal karena orangnya sedikit  jadi kalian di alihkan ke hari lain kata pak zainal pengajar aplikom. “haduuh padahal orang yang sedikit yang aku cari, selain nyaman, konsen juga adem ayem hehe kan sedikit,” gumamku dalam hati. Senin sudah ga bisa, selasa, rabu dan kamis padat jadwal kuliah. Aku mantapkan pilihanku hari jum’at jam 09.00, karena jum’at kosong jadi aman lah. Yaa deh relakan saja, pasti banyak orangnya.
Bosan juga ga ada kegiatan hari senin ini. Mendengar kata batal kuliah, “habis ne mau kemana,” pikirku. Lebih baik nulis saja lah, walau kacau dan tak beraturan, nyambung atau ga, ga apalah, malah huruf besarnya ga ada, huruf kecil semua hehe. Mati lampu ga bisa internetan, padahal aku ingin up date status lanjutan ceritaku tadi, terpaksa aku lanjutkan di word entar kalau mau aku posting lagi. Dua kue harga seribu aku habiskan, cukuplah untuk memaniskan air liurku ditemanin dengan sekotak teh kotak malah tambah manis dimulutku, sambil menikmati musik low hahaha jari-jariku dengan lincahnya menyusun huruf-huruf yang entah menjadi apa nanti. Nah aku asyik cerita sendiri nih.
“kaka ada baca catatan agung lah yang di fb lah,” arif mrndekatiku dan menanyakan hal ini masalah organisasi yang ada di lpm jurnal kampus. “he’eh sudah aku baca dan sudah aku koment, entar baca aja,” kataku. “nanty adakan rapat saja ka ae kita bahas sama-sama apa yang menjadi masalah, nyaman kita selesaikan sama-sama,” ujarnya menyuruh aku memberi solusi. Tanpa aku jawan arif meninggalkan tempat dimana sepatunya berada. “kuliah dulu ka,” katanya. “oke,” jawabku.
Aku lihat langit, ku rasakan angin, mendung predeksi akan datang hujan nih. Eett mendung bukan berarti hujan, nah kata-kata ini aku dapat dari temenku haerol, keren juga kata-katanya, bagiku sih tergantung saja bisa hujan, bisa juga ga hujan.
Aduh apa lagi yaa, aku habisin dulu teh kotaknya, aku lihat baterai netbokku sudah separu habis, “masih banyak,” kataku. Pikiranku mau tidur, sambil nunggu lampu nyala. Ahh aku ingat si dia lagi
Bab 3
Sebel internet mati ga mau, padahal dari tadi maunya up date status lanjutanku. Aku coba beberapa kali tetap saja tidak konek, ini gara-gara pasca mati lampu tadi. Atau malah penjaga labcomnya yang sudah pulang, ah mana mungkin jam segini penjaganya sudah pulang. Kata pak zainal lab a dan b dimatikan saja itu yang aku dengar, tapi yaa sudah lah.
Aku tadi hanya sempat memejamkan mata beberapa saat saja, aku tak bisa tidur, atau bahasa kampungku takirip artinya tidur sebentar. Mulai tadi pagi bawaannya mau kencing mulu, bangun dari takirip langsung saja aku ke toilet, habis minum teh kotak biasanya aku selalu mau kencing. Biasa dah dari dulu, sama juga minum aqua gelas harga 500an itu, kopi, teh, apalagi banyak minumnya sudah pasti mau kencing terus selang beberapa saat. Ada lagi yang unik apabila aku berada ditempat yang dingin misalnya pakai ac, atau cuaca dibumi lagi dingin sama juga mau kencing, alamaaak ko cerita kencing yaa hehehe.
Sambil nunggu waktu ashar, daripada diam ga ad kerjaan, biasa aku baca-baca buku, baca buku pelajaran, buku tentang motivasi, tapi aku sukanya baca novel, sejak kapan aku suka novel, rasanya gara-gara aku pinjem buku dari arif, buku negeri 5 menara, entah kenapa dari situ aku jadi mulai suka baca-baca bacaan yang berbau novel, sampai buku triloginya ranah 3 warna pun selesai aku baca, waaah tambah suka lagi aku sama bacaan novel.
Buku yang aku baca sekarang novel juga tapi agak berbeda, buku yang aku beli saat acara himakom fisip kemarin minggu, iseng liat-liat stand flp (forum lingkar pena) bingung juga aku milih-milihnya, sampai beberapa menit, buku yang berjudul “halo, aku dalam novel” . “waaah keren juga nih buku,” kataku dalam hari. Beberapa kali aku bolak-balak membaca bacaan yang ada dicover belakang, aku simpulkan buku ini pas denganku yang ingin jadi penulis, soalnya isi tulisan cover belakang bertulisan “aku hanya ingin menjadi seorang penulis hanya itu saja. Aku tak peduli dengan orang lain ini peraturan pertama dalam hidupku. Aku lebih suka sendirian” hedeh makin penasaran saja buku ini dilihat dari kata-katanya saja seperti blak-blakan.
Akhirnya aku putuskan untuk membelinya daripada penasaran. Aku keluarkan uang selembar 100 ribuan harganya 47 ribuan, aku ga mikirin lagi, padahal kalau dihitung-hitung cukup 4 hari buat makanku. Waktu itu saja aku belom makan, tak apalah yang penting perasaaanku lega buku yang ga jelas ini ada ditanganku.
Bener juga tebakanku isinya blak-blakan juga hahaha, ternyata ada 2 cerita dalam buku ini, cerita se penulis sendiri, dengan cerita yang sepenulis buat. Mantaaap 1 buku 2 cerita nih. “Gila kata-katanya pedas banget ada kata gila, berengsek, sial,” ujar pikiranku dan el el.  Tak peduli aku baca saja terus, sudah hampir 20an halaman kalau ga salah. Ternyata manarik juga ini cerita tentang seorang gadis bernama halo, ya namanya biasa saja, halo keluar dari dunia kesendirian dan menemukan dunia yang luas. Ini kesimpulan sementaraku, soalnya masih banyak ceritanya dalam buku tersebut.
Aku coba lagi klik coba lagi tetap saja ga bisa internet, payah. Aku mencari kerjaan lagi. Diam, melanjutkan baca novel, atau jalan-jalan ah apa yaa. Laaa batrai netbokku mau habis, buru-buru dices nih. Aku matikan saja....
Bab 4
Tangan dan pikiranku terbawa ingin selalu menulis, aku seperti tersihir sesuatu, tidak pernah aku sebelumnya seperti ini. Selesai menulis ada saja kata-kata yang muncul dalam pikiranku. Bahkan belajarpun aku tunda, mungkin saking mengasyikkan. Ternyata hujan juga setelah mendung itu. Ku putuska untuk nge sms haerol. “bro gorengan kah,” kirimku lewat sms. “hujan bro gimana,” jawabnya. “teduhin aja dulu,” balasku lagi. “okeeyy,” hadi mantap. Haerol memang slaah satu temen akrabku, kami sering nongkrong di gorengan atau bisa juga kami nongkrong dibawah pohon dimuka fakultas teknik unlam, sambil menikmati panorama alam yang indah, melihat manusia beraktivitas, melihat air, melihat awan, dan merasakan sejukknya angin sore hari. Diselingi gurauan tentang cewek-cewek hahaha seruu, rasanya nikmat dan ringan sekali. Yaa sedikit banyak pikiranku yang lagi sesak dengan berbagai aktivitas dikampus sirna seketika, tapi bukan berarti hilang, paling tidak bisa lebih enjoy.
Tak ketinggalan hunting foto-foto juga kami lakukan, berbekal kamera warisan jurnal kampus, sering aku gunakan untuk memfoto diriku sendiri dan temenku haerol. Kadang juga kami sambil ngelihat cewek-cewek yang lagi olahraga atau mereka-mereka yang lagi hunting foto model, hahaha maklum masih muda.
Hujan sudah mulai reda. “dimana bro, ambilin aku ditempat biasa,” aku sms haerol yang dari tadi bilang mandi dulu. “otw broo,” balasnya. 15 menit lagi hampir magrib biasa kami habis ashar ke gorengan.
Sepulang gorengan, lagi-lagi aku mikirin apa yang akan aku kerjakan, yaah menulis lagi deh, aku mencoba menulis agar menjadi rutinitasku, disamping kesibukanku kuliah. Aku tak banya berteman, aku lebih sering berteman dengan buku, hp, dan laptop, aku rasa ini modal yang cukup bagiku untuk mengusir sepi. Plus lagu-lagu tak ketinggalan, parahnya aku selalu muter lagu-lagu naruto hahaha anak kecil banget sih, hedehh. Ettt tapi bagiku bukan kekanak-kanakan, malah lagu-lagu naruto bisa membuatku semangat dalam beraktivitas, apalagi flimnya hemm..tambah semangat aku, naruto bukan hanya sebata flim kartun anak-anak, bagi mereka yang bisa dan dapat mengerti dan memahami arti flim naruto akan menemukan sesuatu yang dapat membuatnya bersemangat dan slalu bergelora dalam mencapa sesuatu. Lebih kuat yaa naruto akan melakukannya apapun agar menjadikannya lebih kuat, pantang menyerah dan mengeluh bukan sifat dirinya. Dengan keyakinan yang mantaap naruto terus berlatih. Flim naruto mampu membuatku semangat. Ini masalah semangat teman bukan masalah kartun.
Aku pikir habis isya sajalah membuka materi pelajaran buat besok selasa, masih banyak tugas-tugas yang berdatangan belum aku kerjakan huh. Aku terhenti berpikir, sudah sampai isya belum nih, aku lihat jam sepertinya sebentar lagi....

Memaksimalkan Jurnal Mahasiswa

Memaksimalkan Jurnal Mahasiswa

 
SEJATINYA sudah ada geliat positif dari beberapa mahasiswa untuk memproduksi jurnal di kampus. Pengalaman penulis aktif mengelola Lembaga Pers Mahasiswa (LPM), setidaknya ada beberapa produk jurnal yang sudah diterima oleh LPM. Hanya saja jumlahnya kalah jauh dibanding majalah atau tabloid.


Dengan dikeluarkannya surat edaran Mendikbud mengenai kewajiban publikasi karya ilmiah, pada prinsipnya memberikan angin segar bagi LPM untuk memaksimalkan produk jurnal, baik dari segi kuantitas jenis media maupun kualitas isi atau tulisan.    

Selama ini, produk yang dihasilkan LPM terkesan seragam. Hampir semua LPM di beberapa Perguruan Tinggi (PT) menghasilkan produk berupa majalah atau tabloid.

Hanya sedikit LPM yang sudah menghasilkan produk berbentuk jurnal. Misalnya, Jurnal Edukasi IAIN Walisongo Semarang, Jurnal Justisia IAIN Walisongo Semarang, Jurnal Cakrawala Universitas Muhammadiyah Magelang, dan Jurnal Skema Universitas Airlangga Surabaya.

Melalui LPM, mahasiswa dapat belajar tentang jurnalistik. Sebab LPM merupakan wadah bakat minat mahasiswa di bidang penulisan. Di samping itu, LPM juga mempunyai produk atau media untuk mengaktualisasikan hasil tulisan dari mahasiswa.

Dalam undang-undang Nomor 40 tahun 1999 pasal 33 dijelaskan bahwa LPM mempunyai fungsi sebagai wahana komunikasi massa. Sebagai penyebar informasi kepada mahasiswa. Selain itu juga  mempunyai fungsi sebagai media pendidikan mahasiswa.

Mencermati undang-undang tersebut, sejatinya LPM bukan sekadar sebagai alat untuk menyampaikan informasi di seputar kampus saja. Namun, LPM menjadi media komunikasi antara mahasiswa dan pemegang kebijakan, baik kebijakan kampus maupun kebijakan pemerintah. LPM sebagai media komunikasi, sudah barang tentu menjadi salah satu kunci pokok berhasilnya penerapan suatu kebijakan. Lewat media LPM, mahasiswa dapat mengetahui berbagai informasi maupun kebijakan. Sayangnya, saat ini produk jurnal kurang diperhatikan oleh LPM.

Banyak alasan yang memicu LPM untuk enggan membuat produk jurnal. Di antaranya LPM mengalami kesulitan dalam mengelola jurnal mahasiswa. Lantaran dalam mengelola jurnal mahasiswa, LPM harus mempunyai keseriusan dan bekal yang cukup. Selain  itu, kurangnya perhatian dari pihak kampus dan pemerintah juga menjadikan LPM kurang peduli terhadap jurnal mahasiswa.

Padahal jika LPM dapat mengelola jurnal dengan baik justru akan menambah kajian keilmuan bagi mahasiswa. Karena jurnal yang dikelola oleh LPM dikaji secara mendalam. Tentunya dengan rujukan yang  bisa dipertanggungjawabkan tingkat kebenarannya.

Perlu Dorongan

Dari situ dapat dikatakan bahwa  LPM mempunyai peran yang penting untuk menjembatani kebijakan yang dicanangkan Mendikbud. Perlu adanya arahan atau dorongan  kepada LPM untuk menghidupkan kembali jurnal mahasiswa.

Untuk menunjang itu semua, ada beberapa upaya yang perlu dilakukan Mendikbud terhadap LPM. Pertama, Melakukan pelatihan kepada LPM di kampus terkait pengelolaan jurnal mahasiswa. Pelatihan itu dimaksudkan agar LPM mampu mengelola jurnal mahasiswa dengan baik, sehingga tidak ada kesulitan yang dihadapi LPM ketika membuat jurnal.

Kedua, memberikan dana bagi LPM untuk kemudahan mengakses berbagai informasi. Bagaimanapun, dalam membuat jurnal, LPM membutuhkan dana. Dengan adanya dana, dapat menunjang lancarnya LPM dalam membuat jurnal. Selama ini, beberapa LPM kesulitan dalam mencari dana. Sebab tidak ada dana dari pihak kampus  yang khusus untuk membuat jurnal.

Ketiga, Perlu pengawasan dan pemantauan. Tentunya setelah memberikan sokongan dana dan pelatihan. LPM tidak dibiarkan begitu saja. Namun, LPM tetap di pantau dan diawasi. Agar dalam pelaksanaannya LPM dapat mengelola jurnal dengan baik.

Agar dapat menjalankan peranan dan fungsinya dengan baik, terutama dalam mengelola jurnal. Maka LPM perlu mendapat dukungan dari berbagai pihak, baik dari pihak kampus maupun pemerintah. Dengan adanya dukungan, setidaknya LPM dapat lebih maksimal untuk menambah produk jurnal. Dengan demikan,  sangatlah jela tugas yang menanti LPM adalah memaksimalkan produk jurnal di kampus yang dirasa masih kurang optimal. (24)


—oleh Fathul Jamil, mahasiswa Manajemen Dakwah (MD) IAIN Walisongo Semarang.
(sumber : http://www.suaramerdeka.com/v1/index.php/read/cetak/2012/03/10/179800/Memaksimalkan-Jurnal-Mahasiswa)

Senin, 26 Maret 2012

Mimpi Dalam Kenyataan

                     Mimpi Dalam Kenyataan
    Dihari Wisata Redaksi Paperman 2012

Wajah-wajah melelahkan itu menjadi terobati, menjadi pengganti, menjadi ceria, menjadi menyegarkan dan menjadi sebuah keakraban. Ya agenda besar di hari kedua, Jum’at (22/3) di acara Pentas Pers Mahasiswa Nasional 2012 oleh Lembaga Pers Mahasiswa Jurnal Kampus Fakultas Ekonomi Unlam yakni Wisata Redaksi. Walaupun di serang mata yang kantuk akibat kelemasan dan kelelahan demi lancarnya acara, seluruh kru panitia Paperman 2012 dan ditemani oleh tamu-tamu istimewa yang hadir dari berbagai Lembaga Pers di Perguruan Tinggi yaitu  dari UKM Jurnalistik Untirta Banten sebanyak 2 orang, BEM Unpar Palangkaraya 4 orang, LPM Jelaga Stimik Indonesia 2 orang, dan LPM Sukma IAIN Antasari 1 orang sangat antusias menyusuri sungai di Banjarmasin.
Star yang dimulai dari siring Banjarmasin sebrang mesjid Sabilal Mutadin, mesjid kebanggaan masyarakat Kalsel. Habis shalat shubuh semua menanti 2 kapal klotok yang telah dipersiapkan oleh panitia beberapa hari yang lalu. Sekitar 40an orang panitia dan delegasi dibagi menjadi 2 sehingga masing-masing klotok ada 20 orang.
Aku masuk dalam rombongan dengan delegasi, “Baru pertama kesini kan bang, Banjarmasin ini dikenal dengan kota seribu sungai,” Kataku memberitahu kepada delegasi UKM Jurnalistik Untirta, Nelson dan Enjang yang nampak terkesima. “Baru pertama naik kapal klotok nih, di Banten tidak ada yang seperti ini,” Ujar Enjang.
Dua klotok mulai berjalan untuk memecah pagi yang lumayan cerah, matahari menampakkan diri dengan malu-malu dengan sinarnya yang menyehatkan. Semua nampak gembira, dan kelelahan seakan-akan terbang bersama lajunya klotok.
Aku dan yang lain memilih duduk di atas atap klotok itu agar bisa melihat kesana kemari pemandangan dan angin yang sepoi-sepoi. Kilatan-kilitan kamera digital yang dipegang oleh pubdekdok mulai menyambar kami yang berada diatas atap klotok. Enggan dan sayang sekali kalau moment ini dilewatkan begitu saja, yah dengan alasan kenang-kenangan dan untuk melepas kerinduan apabila nanti semua berpisah, moment itu masih bisa hadir lewat lembaran foto yang di jepret oleh panitia.
Nelson, Enjang dan teman-teman delegasi lain juga membawa senjata sendiri bagaimana untuk menyimpan moment acara ini dan terlebih mereka yang baru pertama kali ikut. Ada yang membawa kamera handycam, kamera pocket, handphone. Nelson misalnya dengan handycamnya dia mengambil gambar mukanya sendiri, walaupun agak narsis hehe. Dia begitu jeli melihat-lihat hal-hal yang ada di sekelilingnya. Mulai dari  rumah-rumah, kapal-kapal kecil yang membawa sayuran, sampai dengan orang-orang yang mandi di sungai. “Wooi temen-temen ada cewek cakep mandi,” Kataku kepada mereka. “Ehm haiiii,” Ujar Nelson memanggil kami pun jadi tertawa dibuatnya hahaha.
Kami semua terhanyut diatas air, sesekali kami menundukkan kepada, merebahkan badan, bahkan bersembunyi didalam karena klotok kami melalui jembatan yang rendah sehingga apabila kami duduk seperti biasa maka pasti akan kena besi bawah jembatan, wah wah bisa jatuh kami kalau kena lowong jembatan itu. Pemandangan demi pemandangan kami nikmati dan tak terasa kami sampai di sebuah lautan, oh bukan sepertinya danau, yaa danau barito tempat orang-orang masyarakat sana yang berjualan dengan tradisi kapal terapung. Sangat tradisional sekali, tak hanya transaksi dengan mata uang namun transaksi barter pun masih berlaku. “Seandainya kita datang kesini sekitar jam 6an pasti banyak banget penjual-penjual yang menggunakan kapal terapung disini untuk menjual dagangan,” Kataku pada Enjang yang asyik melihat-lihat pemandangan yang menurut aku asing baginya.
Kami sudah lama berjalan dan menyusuri, langsung saja awak klotok mencari-mencari warung untuk makan panitia dan delegasi. Warung pun kami temukan dan kami semua singgah dan  tetap berada diatas kapal. Warung yang bernama warung terapung ini menyediakan menu masakan, nasi sop, soto, rawon yang semua itu adalah masakan khas banjar. Delegasi Unpar, Banten, Sukma langsung meluncat ke kapal warung itu dengan tak sabar dan langsung memesan makanan. Sementara aku bergabung dengan delegasi Stimik memilih tetap bertahan di belakang klotok.
“Wal kami nasi sop saja dan teh es,” Aku memesan kepada Waldy ketua panitia. Lumayan lama menunggu akhirnya pesanan makanan kami datang, langsung kami masuk kedalam untuk makan ditemani krupuk, sambel dan kecap asin. Hemmm enak bangeet bagi yang laper hehe.
Setelah kenyang kami langsung menuju sebuah pulau yang tak asing lagi bagi warga Kalimantan selatan terlebih warga Banjarmasin, namun bagi delegasi ini pulau pertama dan tak pernah mereka kunjungi. Pulau kembang namanya, bukan kembang yang banyak tumbuh disini, namun monyet-monyet yang menjadi penghuninya. Aneh bukan pulau kembang kok penghuninya monyet hehe. Itu lah salah satu keunikan tempat wisata yang ada di Banjarmasin ini.
Baru kami menyentuh bibir dermaga penyinggah monyet-monyet itu sudah mulai berloncatan untuk meminta makanan, sontak saja mereka yang cewek berteriak ketakutan hehe, semua menjadi guruh karena suara-suara itu. Tapi tenang monyet-monyet yang ada disini aman-aman saja kok. “Mereka tidak mencakar atau menggigit tapi mereka hanya meminta makanan,” Ujar salah satu pawang monyet yang ada disana.
Aku melihat Nelson dan Enjang nampak ketakutan maklum baru pertama hehe. Setelah kami siap kami langsung berjalan masuk kedalam hutan monyet. Tak lupa aku beli kacang yang nantinya ku berikan pada monyet itu. Eh tiba-tiba baru beli kacang 5 bungkus. Monyet kecil langsung menyambar 1 bungkos punyaku. “Hei hei tenang broo tenang,” Kataku melucu. Aku coba berikan sedikit kacang untuk Nelson untuk memberikannya kepada monyet. “Gini bang cara kasih makannya, dia tidak menggigit kok,” Kataku sambil memberitahukan caranya. dan Nelson langsung mencobanya.
Makin ke dalam kami menyusuri monyet-monyet ini makin buas saja, Buktinya teman Nelson yang pakai kacamata si Enjang di ambil kaca matanya bahkan sampi dibengkokkannya. Waaah ini monyet ape hal ngambil kacamata orang. “Monyetnya tahu kalau kalian baru pertama kesini,” Kami sontak tertawa hahaha.
Untung saja pawang monyet membantu untuk mengambilkan kacamata Enjang dan al hasil berhasil. Enjang nampak masih menggetar pasca kacamatanya diambil dengan secara tiba-tiba. Habis itu kami langsung keluar dari hutan itu dan menuju dermaga untuk berfoto bersama buat kenang-kenangan. Selesai berfoto-foto kami segera kembali ke klotok dan pulang menuju sebuah tempat tujuan, tempat yang membuat kami menjadi akrab dan menjadi saling kenal “Wisma Banjar”
Aku terbangun, dan ah ternyata aku bermimpi tadi aku tertidur gara-gara kekenyangan dan mungkin karena kelelahan. Kapal klotoknya sudah sampai siring. Aku langsung saja keluar. Hemm aku sempatkan untuk mencuri pandang pada seorang gadis manis itu. Hehe aku jadi teringat masa-masa paperman 2010 dulu. Aku Sering mencuri pandang akan wajahnya yang manis. Dan sesekali dari senyumnya yang manis aku curi. (*)
Karya : Muhammad Elhami
LPM – JURNAL KAMPUS FE UNLAM
Banjarmasin, 22 Maret 2012
14 : 21 PM




Rabu, 16 November 2011

Ketika Menduakan Organisasi Menjadi Budaya


Ketika Menduakan Organisasi Menjadi Budaya

Oleh : Muhammad Elhami
Wakil Ketua Umum LPM Jurnal Kampus
Banyak orang yang berpendapat kalau diduakan itu menyakitkan, seperti halnya dalam pernikahan. Ini disebabkan salah satunya tidak bisa berlaku adil dalam keduanya. Seseorang lebih condong untuk memilih salah satunya karena sekali lagi saya tegaskan tidak adanya keadilan.
Mungkin juga sama halnya dengan sebuah organisasi, apabila diduakan dalam hal ini merangkap dalam organisasi lain (*saya ambil organisasi dalam kontek kemahasiswaan) pasti salah satunya akan ada yang diabaikan. Banyak yang beralasan ikut banyak oragnisasi untuk mencari pengalaman yang baru, sekilas tidak ada yang salah, namun pada kenyataan sebuah organisasi memang membutuh sumber daya manuasia yang benar-benar fokus untuk menjalankan roda organisasi yakni program kerjanya.
Maka dengan satu organisasi dan fokus inilah akan dapat membangun organisasi yang sehat tidak ada kecemburuan dalam anggota. Tapi dalam fakta, kenyataan dan realitanya praktik ini semakin banyak, sedikit banyak ini akan menjadi sebuah budaya yang akan selalu menular kepada bawahannya. Jelas budaya sikap, pemikiran atau apaun akan diikutinya.
Mencermati salah satu organisasi kemahasiswaan yaitu lembaga pers mahasiswa jurnal kampus, hingga dulu sampai sekarang budaya menduakan organisasi semakin menjadi, entah siapa yang memulainya. Nyatanya sampai sekarang budaya ini tetap ada. 
Dampak bagi mereka yang menduakan organisasi sebenarnya dapat kita lihat dikenyataan, kebanyakan tidak dapat membagi waktu dalam organisasi. Saat rapat terjadi dalam waktu bersamaan, sebenarnya ini tidak bisa disalahkan kenapa rapat terjadi dalam waktu yang sama, kita tak bisa eh jurnal kampus besok saja rapatnya terbentur nih dengan organisasi lain, nah ini secara tidak langsung loyalitas terhadap organisasi perlu dipertanyakan. Dia ini ingin fokus dimana sih?...
Kemudian selain waktu menjadi dua, aktivitas pun menjadi dua juga banyangkan misalnya acara atau event dalam waktu bersamaan, sudah pasti satunya terbengkalai. Sebenarnya kalau bisa berlaku adil terhadap organisasi tidak menjadi masalah, tapi dikenyataannya banyak yang tidak bisa. Untuk itu diperlukan sebuah langkah tegas dalam sebuah aturan organisasi bahwa disini bukan tempat untuk rame-rame. Yaa saya bilang rame-rame karena ada acara atau event.
Ketika semua terlena dengan acara dam event-event, kenapa jurnal kampus tidak mengambil jalannya sendiri yang sebenarnya sudah jelas, dunia jurnalis. Selama ini kita ketularan acara dan event untuk menjadi eksis. Al hasil media yang merupakan jantung di organisas jurnal kampus terabaikan.
Dan semuanya menjadi budaya hingga saat ini. Sudah saatnya kita belajar untuk melakukan perubahan, dalam organisasi perubahan disebutkan organisasi yang ingin melakukan perubahan harus memebangun kapasitas, menyesuaikan dan merubah terus-menerus (berkelajutan). Untuk mengelola organisasi dalam melakukan perubahan maka diperlukan langkah-langkah yakni menciptakan strategi, merancang ulang struktur organisasi dan membentuk kembali budaya organisasi.
Nah, agar berhasil perubahan strategis ini mesti dikelola sehingga tercipta tiga kondisi agar bejalan efektif  yaitu kesadaran, kapabilitas, da keikutsertaan.
Mari kita lakukan perubahan bersama-sama agar jurnal kampus menjadi lebih baik dan lebih maju. Kita eksis dijalan kita sendiri bukan jalan orang lain. Semua itu dapat kita lakukan dengan sepenuh hati dan rasa memiliki jurnal kampus. Hilangkan semua keraguan untuk sebuah kebaikan.
Banjarmasin, 15 november 2011

Senin, 14 November 2011

Jurnal Kampus Mengawali Perubahan (Ketika Keinginan Hati Ingin Kembali Ke Awal)


Jurnal Kampus Mengawali Perubahan
(Ketika Keinginan Hati Ingin Kembali Ke Awal)

Oleh : Muhammad Elhami
Wakil Ketua Umum LPM Jurnal Kampus FE Unlam
Selama dua tahun saya berkecimbung di organisasi lembaga pers mahasiswa jurnal kampus fakultas ekonomi unlam (LPM JK FE Unlam) banyak sesuatu dan hal yang saya amati mulai dari kinerja, program kerja dan lainnya.
Sudah lazim bahwa produk utama pers mahasiswa adalah berupa buliten, tabloid, majalah, bahkan ada juga koran. Kalau mengamati pers mahasiswa yang berada diluar daerah bisa dikatakan jauh tertinggal dari pers mahasiswa yang ada di kalsel khususnya di fakultas ekonomi unlam yakni LPM jurnal kampus.
Organisasi punya cara sendiri untuk menjadikannya eksis didalam maupun diluar. Dengan berbagai acara dan event salah satunya.
Tak ketinggalan jurnal kampus pun punya agenda dan acara untuk menjadikanya eksis. Namun dibalik semua itu kenyataan yang saya amati dari tahun ke tahun justru produk  utama berupa tabloid mengalami penurunan. Ironi memang, pada dasarnya melalui media lah organisasi pers itu mengeksiskan dirinya. Tak hanya itu dia juga merupakan sarana untuk memahami kejadian-kejadian yang ada disekitarnya.
Pada masa pemerintahan arif rahman (2008-2009), ya semua anggota fokus hanya di jurnal kampus, tak ada yang ikut organisasi yang lain, kalaupun ada mereka tetap memiliki rasa tanggungjawab terhadap jurnal kampus. Ada empat tabloid yang diterbitkan, ini sebuah prestasi awal yang bagus dimana seperti sejarahnya jurnal kampus hampir punah akibat tak ada kegiatan.
Berlanjut pada masa kharismatik. Kenapa saya sebut ini. Ahmad rifandi adalah sosok yang paling menginspirasi saya dan selalu memberikan jalan dan motivasi tentang sebuah arti organisasi. Kemajuan pesat boleh dibilang, dengan mempertahakan tabloid berhasil diterbitkan sebanyak empat, disamping itu event yang berskala nasional merupakan event perdana yang dilaksanakan oleh per mahasiswa yang ada di kalsel yakni jurnal kampus. Ini patut kita banggakan.
Tetapi dibalik semua ini menyimpan kelelahan yang sangat amat, tak urung banyak anggota yang minggat karenanya. Memang dibalik kesuksesan itu diperlukan sebuah pengorbanan.
Sekarang pada masa pase yang membingungkan, bagaimana tidak mulai dari musta 2009 (musyawarah tahunan) sejumlah permainan yang membingungkan terjadi. Calon ketua umum yang terdengar ditelinga ada lima orang, tiga orang mengundurkan diri karena enggan dan merasa tidak siap dan berupa alasan lainnya. Terjaring dua calon yang bertahan, entah karena tidak tega jurnal kampus dipimpin oleh angkatan 2009 atau karena teriakan anggota untuk maju, sang ketua umum 2009-2010 mengajukan diri lagi sebagai calon.
Padahal menurut peraturan hanya boleh menjabat satu tahun, ternyata terpilih lagi. Berjalan beberapa bulan entahlah apakah merasa tidak enak atau gengsi? Turun ditengah jalan merupakan pilihan yang tepat baginya.
Nah, permasalahan tak sampai disini, saat musyawarah luar biasa digelar banyak sekali kejanggalan yang terjadi. Mulai anggota yang hadir kurang 1/3, kemudian SMS beredar untuk untuk memilih sang wakil yang naik. *saat itu wakil yang dipilihnya buka dari calon yang maju.
Akhirnya dengan sistem hirarki kesepakatan didapat, mahasiswa akuntansi 2009 yang sebelumnya mengundurkan diri dan menolak untuk jadi calon ketua umum jurnal kampus maju menduduki posisi strategis ini. Kesal, bingung, dan aneh semuanya tercampur dalam kerelaan untuk menerima semuanya. Saya hanya menunggu hikmah dibalik semua ini.
Waktu berjalan tak banyak perubahan, agenda yang dijalankan pun masih sama dengan dulu, hanya jurnal kampus menjalin kerjasama dengan media terbesar dikalselteng yaitu banjarmasin post. Saya pun sempat merasakan kekecewaan disepanjang berjalannya kepengurusan ini tapi saya mencoba untuk sabar dan menyesuaikan dengan keadaan.
Tabloid yang merupakan produk utama ini hanya mampu diterbitkan satu saja. Ini perlu dipertanyakan? Ada apa di internal jurnal kampus?, sudah sangat jelas kinerja jurnal kampus sangat menurun.
Ternyata salah satu faktor penyebab semua ini adalah cara seorang pemimpin dalam memimpin. Sebelumnya menolak untuk memimpin ternyata mau jadi pemimpin, ini saya katakan adalah sebuah keterpaksaan, ya keterpaksaan memang memberatkan. Saya tidak tau apa yang dipikirkan mengapa dia menerima posisi ini.
Berbagai banyak hal yang saya amati adalah bergesernya tanggungjawab banyak anggota. Ikut organisasi lain atau menduakan organisasi merupakan faktor terbesar yang menyebabkan semua ini. Saat mengamati ini jujur saja saya sendiri merasa cemburu, bagaimana tidak pada saat rapat jurnal kampus entah itu rapat besar, internal alasan mereka apa? Rapat organisasi lain dulu baru rapat jurnal kampus. Nah ini seakan-akan jurnal kampus dinomor duakan atau yang lebih ektrim jurnal kampus dianggap  tidak penting. Itulah fakta dan realitanya yang saya amati.
Ditambah lagi budaya-budaya yang ada diorganisasi lain melekat di jurnal kampus. Hakikatnya jurnal kampus adalah dunia jurnalistik dengan media sebagai produknya justru terabaikan. Krisis pemikiran, ide, dan inovasi itu terjadi anggota lebih suka hal yang berbau fisik daripada pikiran.
Atas dasar inilah nilai-nilai pers ingin saya bangkitkan kembali dengan melakukan perubahan, menguatkan kembali ketegasan dan aturan. Melakukan perubahan tidak semudah membalikkan telapak tangan. Dia perlu tahap per tahap, bimbingan, arahan dan menggiringnya selalu apalagi yang dirubah ini adalah budaya dalam orgaisasi. Setiap perubahan yang akan dilakukan pasti ada sesuatu kontroversi, ini memang lazim dan merupakan hal yang wajar didalam manajemen perubahan.
Demi kemajuan dan cita-cita jurnal kampus perubahan adalah hal yang mutlak harus dilakukan agar organisasi ini tidak stagnan dan tidak selalu menurun kinerjanya. Bagi mereka yang siap akan perubahan akan menjadikannya sebagai peluang, dan justru bagi mereka yang tidak siapa akan perubahan maka akan dianggapnya sebagai ancaman bahkan sebuah hal yang negatif. So apa pilihan kalian? Jurnal kampus Tetap, mundur, atau maju...!!!
JADI APAPUN JURNAL KAMPUS
ITU ADALAH  SEBUAH PILIHAN
Banjarmasin
                        Minggu, 13 Nopember 2011