Sabtu, 05 Januari 2013

Laporan Umum PJ Ketua Umum LPM Jurnal Kampus FE Unlam 2012/2013



Gambaran umum laporan pertanggungjawaban ketua umum lpm jurnal kampus fe 
unlam periode 2012/2013
 
-    Paperman 2012 berjalan dengan sukses walaupun begitu banyak kendala
-    Penerbitan media dalam format majalah perdana
-    Menciptakan produk media baru yakni buletin sebagai anak dari majalah, terbit selalu berkala dan sudah lebih dari 10
-    Pembuatan mading juga tetap eksis
-    Pertemuan rembung dengan alumni jk
-    Pembangunan sekre lpm jurnal kampus
-    Menciptakan blog sebagai pendamping website yang masih bermasalah
-    Pendelegasian di kongres ppmi nasional
-    Mukernas ppmi nasioanal
-    Basic skill of jornalism 2012
-    Diklat menulis dan  wawancara
-    Diklat desain dan fotografi
-    Diklat publik speaking
-    Rekrutmen anggota muda 2012
-    Magang anggota muda 2012
-    Musta 2012 tersukses
 
Kendala-kendala yang dihadapi :
 
-    Masih minimnya dalam menguasai kepemimpinan mulai awal-awal menjabat
-    Banyak ketidakaktifan anggota
-    Masih selalu berkutat dengan permasalahan internal
-    Komitmen masih rendah
-    Kesadaran akan tugasnya diorganisasi masih minim
-    Antara teori dengan praktik masih belum seimbang

Untuk Wartawan

Hal-hal yang harus diperhatikan oleh seorang wartawan
-    Hindari generalisasi (menyimpulkan tanpa fakta di lapangan)
-    Tanamkan etika jurnalistik dan pahami hukum-hukum pers
-    Fakta harus akurasi, akurasi, dan akurasi (harga mati)
-    Wartawan tidak boleh lengah
-    Hak privasi
-    Anggap narasumber sebagai seorang teman untuk sharing
-    Hindari opini pribadi
-    Hindari suap dalam bentuk apapun
-    Tidak berniat buruk
-    Tanyakan kalau memang tidak tahu
-    Malu bertanya sesat di jalan
-    Yang paling penting kita bekerja profesional

Senin, 31 Desember 2012

Keceriaan di Malam Tahun Baru 2013


 

Tepat pukul 00.00 Waktu Indonesia Tengah, Selasa (1/1/2013) perempuan yang aku kenal itu bernama Wita keluar menyaksikan pergantian tahun baru di Banjarbaru. Ia keluar dari lantai dua dirumah neneknya, matanya langsung tertuju kepada kilatan dan warna-warni kembang api dilangit. Dengan memakai jaket biru berlambang logo sepak bola chealse. Setelah berdiri lima menit ia duduk dibangku kecil persegi empat. Matanya tetap menengadah keatas, letupan demi letupan kembang api itu menghiasi langit.

Langit menjadi warna-warni, dengan kepulan asap yang terbawa angin. Walaupun agak mendung, kemudian disertai gerimis. Angin menerpa kepulan awan itu, terlihat rambut Wita terurai karena angin yang sepoi-sepoi. Ia melipat kedua tangannya didada.

Ia berdiri sambil memegang pagar yang ada di depannya, pagar itu terbuat dari kayu berwarna coklat agak kusam. Tak berapa lama lima menit kemudian datang anak perempuan kecil yang umurnya sekitar delapan tahun. Memakai baju putih bermotif bunga-bunga, ditangan sebelah kanannya terdapat lima kembang api. Terlihat tangan kiri si anak itu menarik-narik baju Wita, sehingga ia berpaling. Wita membungkukkan badannya, kemudian menatap si anak tersebut dengan memusut kepalanya sambil tersenyum.

Si anak menyerahkan lima kembang api itu kepada Wita, lalu si anak berbalik dan masuk kembali kedalam rumah. Lima menit kemudian si anak keluar dengan membawa korek api ber cap pak haji dan diserahkan kepada Wita. Mereka kembali menatap langit.

Tak lama sekitar empat menit, kelima kembang api yang dipegang Wita tadi di kasihkan satu kepada si anak itu, Wita menyalakan korek api untuk dinyalakan diujung kembang api yang dipegang oleh si anak. Tangan kirinya menutup telinga, terlihat percikan api menandakan kembang api sudah dinyalakan, dan dengan suara “siuuuuut” kembang api itu meluncur ke atas dan meletus,  menciptakan cahaya yang warna-warni. Si anak itu tertawa dengan riang dengan melompat-lompat.

Kemudian Wita mengambil satu kembang api lagi dan menyalakannya sendiri, sambil tangannya diangkat keatas dan kembali “siuuuuut” suara kembang api yang kedua meluncur dan meletus. Si anak semakin kegirangan dan meminta kembali dengan memelas kepada Wita. Si anak itu kembali mengambil kembang api, namun kali ini dua kembang api sekaligus yakni ditangan kanan dan kiri. Wita sepertinya menegur si anak itu, tapi ia tetap memelas dengan menarik lebih kencang baju Wita, dan akhirnya dengan hati-hati Wita membimbingnya kemudian menyalakan korek api di kedua kembang api tersebut. Lagi, kedua kembang api yang dipegang si anak itu meluncur lebih tinggi dari kedua kembang api yang sebelumnya. Sehingga kilatan cahaya menerangi tempat disekitar itu.

Si anak itu berteriak lebih kencang dengan suara “yeeeeeeee warna-warni ka, lagi, lagi, lagi”. Namun Wita memberikan sebuah isyarat lewat tangannya menandakan tidak boleh. Kembang api yang terakhir tak ia serahkan. Kemudian Wita mengangkat anak itu dengan mengendungnya. Kembang api terakhir mereka pegang sama-sama dengan sambil mengucapkan hitungan mundur dari tiga. Tiga, dua, satuuuuu, maka meluncurlah kembang api yang terakhir. Terlihat mereka tertawa bersama. Dan lima menit setelah itu mereka berjalan kembali ke dalam rumah dengan masih mengendung si anak itu. Lampu dikamar yang sedari tadi menyala, mati dan menjadi gelap. Wita muncul di jendela, ia  menatap langit, dan memejamkan mata selama tiga menit, setelah itu ia menutup kembali jendela kamarnya.

Rumah Tua


 

Terletak di pinggir tepi danau biru kabupaten Hulu Sungai Barat, rumah tua yang hampir berumur ratusan tahun itu masih tegap berdiri. Kira-kira luas rumah tersebut separuh luas lapangan basket. Beratapkan daun kelapa, berdindingkan bambu yang sudah terlihat rapuh berwarna agak kekuning-kuningan. Dengan satu pintu di depan, dua jendela di sebelah kanan dan kiri. Di belakang rumah terdapat sumur kecil berdiameter 5.

Disekeliling rumah dipenuhi oleh rumput-tumput setinggi lutut anak-anak, di pekarangan depan ditumbuhi oleh bunga-bunga yang tertata rapi membentuk sebuah jalan setapak sampai kepintu. Didekat pintu dua sandal jepit bermerek nipon berwarna biru tersusun rapi, namun sandal bagian kiri putus.

Diatas pintu papan persegi panjang yang kira-kira berukuruan 2x3 bertuliskan No.15, Rt.05, Desa Sunyi, Kelurahan Terpencil dicetak tebal warna merah. Disebelah kanan pintu tergantung kertas kardus diatas paku payung berukuran 5x7 berwarna coklat. Semua berhuruf kapital tebal bertuliskan “dijual dengan harga suka rela hub : 081990xxxxx”.

Sekitar 3 meter dari kiri rumah tersebut ada pohon cemara setinggi orang dewasa, sebagian sudah mulai kering sehingga ranting-ranting berserakan ditanah. Sepeluh menit kemudian, seekor burung pipit hingga diranting pucuknya, dengan sambil mematuk-matuk daun. Tak lama lima menit setelah itu, burung pipit yang lain berjumlah sembilan ekor datang dari arah selatan, kesembilan burung itu menuju ranting paling bawah.

Setelah setengah jam burung-burung itu hinggap dipohon cemara, angin kencang membubarkan mereka. Terlihat awan putih bergeser ke utara, disusul dengan awan hitam yang datang dari barat. Suasana menjadi dingin dan gerimis pun turun. Matahari memancarkan cahaya merah kekuning-kuningan. Setelah 8 menit gerimis turun, tiga warna, merah, kuning, hijau muncul dilangit membentuk setengah lingkaran.

Tiga burung elang terbang melintasi pelangi dan kemudian hinggap diatap rumah tua itu.


Sabtu, 29 Desember 2012

Perempuan Berkacamata


Duduk paling depan di pojok kanan ruangan sesekali perempuan itu bersandar sambil melihat dosen di depan. Memakai kerudung dengan gaya trend arab, berwarna putih kegelap-gelapan dan rumbainya berjejer disisi kerudung tersebut. Kacamata yang dia gunakan sebagian berwarna kuning melingkari kaca terbal bening. 

Ditangan kirinya terdapat jam tangan plastik berwarna kuning, saat itu jarum di jam tersebut menunjukkan jam 17.20, sedangkan dijari kelingkingnya ada cincin perak. Tangan kanannya memegang pulpen warna hitam bermerak pilot, sambil menuliskan sesuatu di buku yang berwarna putih bergaris-garis. 15 menit setelah itu, dia menutup bukunya dan kemudian tangan kirinya merapikan kancing baju bagian bawah yang terlepas. Kancing itu  berwarna hitam pekat dan berjumlah enam.

Perempuan itu juga memakai baju kotak-kotak berwarna merah mudah, putih, dan kuning muda. Dengan lengan panjang, memiliki satu kantong di bagian dada sebelah kiri. Dan bagian lengan baju itu terlipat sehingga terlihat pagelangan tangannya.

Dia kembali duduk dengan tegap setelah bersandar dengan mengepalkan kedua belah tangannya di atas kursi bermeja warna putih dengan sedikit corat-coret. Sesekali dia memainkan cincin di jari kelingkingnya. Kuku dikedua tangan itu berwarna pink dan kerlap-kerlip. 

*belajar mendiskripsikan objek




Senin, 24 Desember 2012

Tinggalkan Pesan


Ku ingin suatu waktu kau tinggal disini
Biarkan jarimu yang rahasia meramal sendiri tunas-tunas hari
Yang membimbing buah cinta memahami benci
Kakimu berlari mengejar kereta dan menghitung jam kota
Yang tak pernah tua
Tubuhmu yang runcing menancapi lubuk setiap penghuni
Matamu yang tulus takkan ucapkan rindu pada rumah
Dan kami takkan pernah keluar dari rasa takut akan benci
Jika engkau tua nanti tuliskan pesan pendek pada sajakku
Sebab engkau tak juga tau
Bahwa kebencian itu sesuci kata-kata
Dan aku tak ingin kau percaya



Sabtu, 22 Desember 2012

Seperti Seharusnya

 
 
Sepenggal lirik band peterpan dengan judul lagu walau habis terang “biarkan semua seperti seharusnya” bagiku mengandung makna sederhana dan tidak akan berlebihan agar dalam menjalani hidup bisa seimbang alias tidak berat sebelah. Sangat menyakitkan apabila kita tidak bisa melupakan sesuatu yang mengganggu pikiran. Dan terlalu menyenangkan bila kita ingat sesuatu yang dapat menyenangkan.

Seperti seharusnya membiarkan dengan berusaha untuk bisa mendapatkannya, tidak berambisi tetapi memiliki komitmen yang kuat kemudian tidak terjatuh apabila gagal walaupun ada kekecewaan, namun itu hanya berangsur sementara meredam lalu berjalan seperti biasanya. Tidak akan pernah disesali, karena percaya bahwa apa yang terjadi dari dulu sampai sekarang adalah yang terbaik yang diberikan tuhan. Yang semestinya dilakukan adalah bersyukur.

Dengan itu perjalanan akan mudah diantiasipasi begitu ada kerikil yang menganggu, tetap fokus dan bertanggungjawab. Sabar dan jangan lupa untuk selalu ceria, karena masih banyak hal yang bisa membuat kita senang. Jadi buat apa kita terjatuh terlalu lama.