Kamis, 30 Mei 2013

Jiwa Yang Abadi




Satu wilayah adalah dunia indra, yang mengenainya kita hanya dapat mempunyai pengetahuan yang tidak tepat atau tidak sempurna dengan menggunakan lima indra kita. Di dunia indra ini “segala sesuatu berubah” dan tidak ada yang permanen. Dalam dunia indra tidak ada sesuatu yang selalu ada, yang ada hanyalah segala sesuatu yang datang dan pergi.

Wilayah yang lain adalah dunia ide, yang mengenainya kita dapat memiliki pengetahuan sejati dengan menggunakan akal kita. Dunia ide ini tidak dapat ditangkap dengan indra, tetapi ide (atau bentuk-entuk) itu kekal dan abadi.

Manusia adalah makhluk ganda, kita memiliki tubuh yang “berubah” yang tidak terpisahkan dengan dunia indra, dan tunduk pada takdir yang sama seperti segala sesuatu yang lain di dunia ini—busa sabun misalnya, semua yang kita indrai didasarkan pada tubuh kita da karenanya tidak dapat dipercaya. Namun kita juga memiliki jiwa yang abadi—dan jiwa inilah dunianya akal. Dan, karena tidak bersifat fisik, jiwa dapat menyelidiki dunia ide.

Bahwa jiwa telah ada sebelum ia mendiami tubuh. Tapi begitu jiwa bangkit dalam tubuh manusia, ia telah melupakan semua ide yang sempurna. Lalu, sesuatu mulai terjadi. Sesungguhnya, proses yang luar biasa dimulai. Ketika manusia menemukan berbagai bentuk di dunia alamiah ini, suatu ingatan samar-samar menggerakkan jiwanya. Dia melihat seekor kuda—tapi kuda yang tidak sempurna. Penglihatan atas kuda itu sudah cukup untuk membangkitkan dalam jiwanya ingatan yang samar-samatr tentang kuda yang sempurna, yang pernah dilihat jiwa di dunia ide, dan menggerakkan jiwa dengan suatu kerinduan untuk kembali ke tempatnya yang sejati. Kerinduan ini eros—yang berarti cinta. Maka, jiwa mengalami kerinduan untuk kembali pada asal-usulnya yang sejati. Sejak itu tubuh dan seluruh dunia indra dianggap tidak sempurna. Jiwa rindu untuk terbang pulang dengan sayap-sayap cinta ke dunia ide. Ia ingin dibebaskan dari belunggu tubuh.

Tidak semua manusia membiarkan jiwanya bebas untuk memulai perjalanan ke dunia ide, kebanyakan orang bergantung pada bayanga ide di dunia indra. Mereka melihat seekor kuda—dan kuda yang lain. Namun, mereka tidak mengerti bahwa setiap kuda itu hanyalah tiruan yang buram.

Jika kita melihat sebuah bayang-bayang, kita akan mengira bahwa pasti ada sesuatu yang menimbulka bayang-bayang itu. Kita bayang-bayang seekor binatang. Kita kira itu mungkin seekor kuda, tapi kita tidak begitu yakin, kita berbalik dan melihat kuda itu sendiri—yang tentu saja benar-benar lenih indah dan lebih tegas bentuknya daripada bayang-bayang kuda yang kabur. Semua fenomena alam itu hanyalah bayang-bayang dari bentuk atau ide yang kekal. Tapi kebanyakan orang sudah puas dengan kehidupan ditengah bayang-bayang. Mereka tidak memikirkan apa yang membentuk bayang-bayang itu. Mereka hanya mengira bayang-bayang itulah yang ada, tanpa pernah menyadari bahwa bayang-bayang tersebut, sesungguhnya hanyalah bayang-bayang. Dan dengan begitu, mereka tidak mengindahkan keabadian jiwa mereka sendiri. (dunia sophie)

Sabtu, 25 Mei 2013

Mengenang Pikiran Dengan Menulis



Boleh ku akui bahwa menulis itu berat sekali, kadang angin-anginan, menulis bisa dilakukan bila ada niat dan kemauan atau memang ada tugas yang mengharuskan kita untuk menulis. Aku lebih suka berpikir kemudian aku terapkan dalam kehidupan, tapi rasanya ada yang kurang bila sebuah pemikiran tidak dituangkan kedalam tulisan.

Menulis saat ini sudah bukan menjadi kegiatan utama, berpikir kemudian menuliskannya ibarat satu paket apabila kita ingin mengenang apa yang sudah kita pikirkan, berbeda dengan apa yang kita pikirkan kemudian kita ulang kembali untuk memikirkannya, hanya omong kosong tanpa ada bekas.

Topik apa yang ingin ditulis juga menjadi persoalan untuk bisa menghasilkan tulisan, orang kebanyakan maunya ingin tulisan langsung menjadi bagus dan perfect. Walaupun menulis bukan menjadi kegiatan utama, aku akan tetap menulis kapan pun aku mau agar masih ada apa yang selama ini aku pikirkan.

Karena menulis bukan kegiatan utama ku, hari ini aku lebih suka memikirkan tentang sebuah kehidupan, peka terhadap sesuatu yang terjadi dan ada disekitar kita, sehingga kita bijak dalam berbuat. Padahal banyak sekali yang bisa ditulis, namun lagi-lagi kegiatan ini bukan hal utama.

Aku ingin menjadi orang yang tidak sama seperti orang kebanyakan dalam hal berpikir dan bertindak. Aku berusaha untuk bisa memaknai setiap kejadian-kejadian yang terjadi, agar hidup ini layak untuk dijalani, bagaimanapun juga hidup yang tak bermakna tak layak untuk dijalani.

Kemudian hidup terlalu berambisi juga akan membuahkan hasil yang terlalu berlebihan untuk mencapai sesuatu, bisakah kita hidup sederhana saja? Mengerti setiap keadaan, membuat orang lain senang dengan keberadaan kita, bahkan tidak banyak kata-kata. Aku takutnya ambisi itu akan menimbulkan sebuah kekecewaan dengan sesuatu yang kita inginkan tidak tercapai dengan semestinya.

Jalankanlah hidup ini dengan penuh kesyukuran, kesabaran, sederhana, dan tenang. Sungguh beruntung bagi orang-orang yang beriman. Kebaiakan dan kebenaran tidaklah bisa disamakan.

Bahwasanya hidup itu tak melulu membicarakan soal cinta.

Tetapi, Asyiknya memang menuliskan soal cinta.

Minggu, 19 Mei 2013

Sensasi Berkendara Untuk Yang Berjiwa Muda


Sensasi Berkendara Untuk Yang Berjiwa Muda

BANJARMASIN, BPOST, Menampilkan cita rasa mobil perkotaan dengan desain yang modis dan sporty serta bandrol harga yang tidak terlalu mahal. Hyundai Grand Avega merupakan pilihan yang sangat tepat bagi kalangan yang berjiwa muda. Apalagi, Hyundai Grand Avega mengusung berbagai kelebihan yang belum tentu ada pada mobil lain di segmen mobil hatchback.

Menurut Sales Executive Hyundai Banjarmasin, Aris mengatakan Hyundai Grand Avega merupakan salah satu produk andalan yang hadir dengan nuansa berbeda.
 
Dengan dimensinya yang kompak, Hyundai Grand Avega ini cukup nyaman dibawa bermanuver baik untuk menghindari kemacetan maupun saat berkecepatan tinggi.

“Selain itu, dengan desain eksterior garis-garis tegas yang elegan dan siratan design lampu headlamp multireflektor, fog lamp yang tajam, bumper dan grille depan serta desain lampu belakang yang sangat eccentric menjadikan design Hyundai Grand Avega secara total sangat sporty dan “eye catching,” jelasnya kepada Banjarmasin Post, Minggu (19/5).

Bagi konsumen Hyundai Grand Avega juga memiliki berbagai varians yang menarik yakni Carbon Gray, Sleek Silver, Crystal White, Phantom Black, Clean Blue, Dan Veloster Red.

“Interior Hyundai Grand Avega terasa sangat lega dan nyaman dihuni 4 sampai 5 penumpang. Kursinya telah didesain seergonomis mungkin dan dibalut bahan berkualitas tinggi untuk memastikan kenyamanan saat anda berkendara,” bebernya.

Lalu, terdapat pula panel instrumen yang mudah dibaca dengan fitur eco driving, trip meter, distance to pump station dan konsol tengah dengan desain yang modern dan mudah dioperasikan yang membuat Hyundai Grand Avega semakin nyaman dikendarai.

Masih ditambah modern audio panel (tipe clarion) dengan fitur pendukung perangkat hiburan seperti Hear Unit Compatible untuk iPhone dan BlackBerry, serta istimewanya kontrol audio bisa dioperasikan melalui setir kemudi.

Dalam sebulan Hyundai Gran Avega mampu terjual mulai dari 15 sampai dengan 20 unit. “artinya sesuai target kami sebulan itu 15 unit,” ungkapnya.

Hyundai Grand Avega hadir dengan berbagai fitur seperti ESP (electronic stability program) dan suspensi MacPherson strut dengan stabilizer di depan dan coupled torsion beam axle di belakang yang membuatnya makin lincah saat bermanuver.

Berkat bantuan perangkat-perangkat ini, Hyundai Grand Avega berhasil menjadi sebuah hacthback 5 pintu sekaligus city car yang mudah dikendarai karena sangat jarang mengalami masalah baik understeer mapun oversteer.

“Dengan fasilitas mewah dan modern yang banyak terdapat di kendaraan premium, harganya yang sangat kompetitif jauh dibanding kompetitor serta masa garansi yang sangat panjang yakni selama 3 tahun atau 100.000 KM mana yang tercapai lebih dahulu, Grand Avega pantas menjadi pilihan anda dan masyarakat Indonesia,” ujarnya. (ee)

Minggu, 28 April 2013

Mengenang Si Mati


Kematian bukan kefaktaan manusia. Mati sebagai manusia berarti mati sekaligus secara sosial. Cara berada manusia di dalam “yang sosial” adalah cara berada transaksional. Mati bukan suatu “cara berada”. Pengalaman itu tidak transaksional. Tetapi mengapa dia menjadi referensi filsafat? Bahkan ia meng-indeks-kan berbagai “ cara berada” manusia. Sosial-eksistensial.

Kematian yang difilsafatkan adalah upaya untuk menyudahi keragu-raguan: bahwa yang mati adalah “kontruksi sosial” yang memelihara referensi si tubuh. Jadi, tubuh yang mati adalah manusia minus referensi sosiologinya. Tubuh yang terurai bumi adalah tubuh yang ditinggalkan oleh referensi sosialnya. Seketika yang sosial berhenti maka energi antropologis tubuh juga lenyap. Yang sosial berpindah menjadi mineral. 

Ada kenangan yang tertinggal, lalu tumbuh dalam referensi baru: “pikiran beliau”, “teladan”, “cita-cita”, dan seterusnya. Tetapi politik kenangan ini juga adalah politik kesewenang-wenangan para pedagang memorabilia: memanfaatkan kematian untuk menyambung kehidupan. Biografi ditulis untuk mengenang si mati, tapi untuk mensiasati kehidupan. Dalam biografi, kematian digunakan untuk mensubsidi kehidupan. Di situ, kematian adalah kepentingan mereka yang hidup.
Jadi, sebetulnya, karena manusia bukan sesuatu yang “menggeletak begitu saja”, maka kematian membangkitkan pertanyaan eksistensal: “mengapa hidup harus ada?”

Bila kematian harus diperlukan sebagai ruang belajar survivalitas manusia, maka kematian tidak boleh diberi batu nisan strukturalisme.

Sumber : Muhammad Damm, 2011, KEMATIAN : Sebuah Risalah Tentang Eksistensi dan Ketiadaan, Depok, Kepik.

Kamis, 18 April 2013

Pertemuan Kesekian Yang Mengesankan


Mengesankan. Kata inilah yang pas untuk mewakili kondisiku hari ini rabu 17 april 2013. Disaat aku kesulitan menemukan teman untuk sekedar curhat dan nongkrong. Perempuan cantik yang satu ini rela menemaniku sejak pukul 09.00 pagi sampai dengan 16.00 sore.
Ya aku setiap kali pulang kampung, aku ingin selalu mencari teman untuk diajak sharing dan bertukar pendapat, paling tidak hari-hari dikampung tidak berjalan membosankan.
Perempuan ini aku kenal lumayan cukup lama, kalau tidak salah pertemuan hari ini merupakan pertemuan ke-3 dengannya...oh bukan ini yang ke-4 kalinya.

Dan izinkan aku sebelum bercerita tentang aktivitasku hari ini bersama dia. Aku mencoba mendiskripsikan dirinya. Dia bernama Rosida, ya hanya Rosida tanpa ada nama tambahan lagi, tingginya perkiraanku sekitar 163 cm masih tinggiku, wajahnya cantik, mirip dengan kakaknya yang masuk rumah sakit, waktu itu pakaian yang dia kenakan adalah juah berwarna cokelat, memakai tas dan sepatu yang serasi yakni warna cokelat, tatapannya sedikit malu-malu tapi menyenangkan untuk dipandang, dia menyukai buku tentang keilmuan terlebih tentang keislamanan sesuai dengan basic pendidikan yang kini dia jalani.

Perempuan lulusan pondok pesantren rasyidiah khalidiyah angkatan 2009 ini mengaku tidak suka makan diluar, buktinya saat aku ajak makan diluar dia lebih memilih untuk makan dirumah. Jenjang pendidikan S2 dan S3 merupakan sebuah cita-citanya yang ingin digapainya walau masih dalam tahap planning. Pengetahun keislamannya cukup kuat karena terbentuk dari pola kebiasannya membaca buku-buku islam.

Jujur aku merasa kagum dengan perempuan yang satu ini. Dia merupakan teman yang cocok untuk aku ajak sharing, diskusi, bahkan curhat.

Aku telat setengah jam dari jam yang telah disepakati yakni jam 09.00, tepat jam 09.30 aku tiba ditaman kota putri junjung buih. Macet dijalanan memangkas waktuku setengah jam.
Pertemuan hari sebenarnya hanyalah untuk sharing tentang kegiatan yang digelar oleh forum lingkar pena (flp) cabang amuntai, kemudian secara kebetulan dia juga sebagai panitia. Kepulanganku ke amuntai bukan untuk berlibur, malah aku bolos kuliah selama 3 hari. Tepatnya aku hanya memperpanjang STNK. Tapi terasa hampa kalau aku tidak menikmati kota dan tempat-tempat ramai lainnya. sama seperti halnya pertemuanku dengan dia. Menyenangkan.

Aku sempat bergumam dalam hati terkejut dan kaget begitu melihat wajahnya. Mempesona. Aku tersenyum sendiri. Kami langsung mencari tempat duduk ditaman itu. Tau tidak kami duduk persis diujung dua sisi bangku taman itu. Berjarak.

Aku kira dia akan merasa risih dengan kehadiran laki-laki sepertiku, tapi ternyata tidak. Dia percaya denganku bahwa aku adalah laki-laki yang baik. Syukurlah. Pertemuan hampir 1 jam itu kami habiskan untuk berbincang, bertanya kabar, dan hal lainnya. aku sempat nervous tapi semua aku buat suasana senyaman mungkin. Dan ternyata dia pendengar dan perespon yang baik. Aku pun tak sungkan-sungkan untuk curhat.

Sinar matahari pagi semakin memanas, kami memutuskan untuk jalan ke toko buku karena sebelumnya aku ingin jalan-jalan ke toko buku sekedar refresing. Eh ternyata dia mau menemani aku untuk jalan ke toko buku. Aku bersorak dalam hati kegirangan.

Kalau di banjarmasin aku lumayan sering jalan-jalan ke toko buku besar yaitu gramedia. Ditoko buku yang ada di amuntai lebih banyak menjual kitab-kitab berbahasa arab. Toko pertama yang kami kunjungi adalah toko sumber letaknya persis didepan warung makanan dekat sungai. Niatku hanya jalan-jalan dan melihat saja, karena kebetulan uang persediaanku menipis cukup buat balik ke banjarmasin hari kamis tanggal 18 april 2013. Jadi aku putuskan untuk menemani dia.

Di toko buku ini dia membeli buku Habibie dan Ainun dengan harga 45.000. katanya kata teman-temannya isi bukunya tersebut seru. Yang paling utama adalah kecintaannya dengan bacaan tentang keilmuan terlebih tentang keislaman, makanya setiap ke toko buku dirinya wajib membeli kitab.

Karena ditoko buku sini tidak ada kitab yang dia cari, kami memutuskan untuk ke toko buku yang berada di pasar. Jujur ya aku serasa menjadi pasangan sama dia kalau jalan wkwkwk 
Aku lupa nama tokonya, disini lumayan lengkap dari toko yang pertama kami singgahi. Sebenarnya aku tertarik ingin beli buku novel. Tapi lagi-lagi aku mikir 3 kali. Ah nanti aku belinya di banjarmasin saja. Dia beli kitab tentang 40 hadist serta keutamaannya. Sungguh perempuan ini benar-benar menyukai bahasa arab. Kalau aku sudah hampir 4 tahun tidak pernah lagi belajar bahasa arab.

Setelah selesai jalan-jalan ke toko buku, jujur saja aku sebenarnya kelaparan dan kehausan berharap habis ini bisa makan bareng dengan dia. Tapi ternyata dia malah mengajak kerumah sakit. Ngapaen?....ya menemani kakak perempuannya yang lagi sakit tipus. Aku ikut saja, asalkan tetap bersama dia, ah aku ingin waktu berjalan lambat biar tak cepar berakhir. Walaupun dengan kondisi lapar dan haus aku tetap semangat.

Nah, terbukti apa yang aku bilang dari awal tadi, wajahnya mirip dengan kakaknya. Aduh aku merasa gimana gito, aku bukan siapa-siapa dari keluarga ini. Tapi aku berusaha senyaman mungkin saat disuruh masuk. Duduk.

Aku betah karena ada dia yang menemani. Sambil duduk santai dikursi, sesekali berbicara dengan kakaknya dan juga dia.

Sampai waktu zuhur tiba, kami masih sharing tentang apa saja, bertukar buku dengan buku yang aku bawa. Tepatnya aku berikan. Kebetulan aku dan dia bertolak belakang dalam segi bacaan. Aku suka novel sedangkan dia suka buku islami.

Setelah zuhur aku ingin memutuskan pulang, karena perutku sudah berontak, namun aku terkejut kembali diajak untuk kerumahnya. Senangnya.

Tapi apakah kalian tau, apa yang paling mengejutkan...”kamu tau lelaki yang kemarin kita ketemu diperpusda waktu itu” ... “ia adalah tunanganku”...

Bagai disambar petir disiang bolong, runtuh harapan-harapan yang telah terbangun. Aku kaget. Tapi kada kaya itu jua kalo lah hehe. aku seolah-oleh menanggapinya biasa saja. Padahal huaaah.

Untung belum menikah hanya tunangan saja, seandainya dia mengaku sudah menikah aku langsung lari keluar dan pulang, gawat dikira merebut pasangan orang.

Untungnya cuman tunangan. Aku punya prinsip selama seorang perempuan belum menikah, maka aku boleh mendekat.

Kerumah? Ngapaen? Dia nawarin aku untuk makan dirumahnya, tapi aku merasa tidak enak. Kok aku merasa diperlakukan spesial ya. Jangan ge-er. Tetap jaga etika.

Dirumah dia kami banyak menghabiskan waktu untuk sharing lebih banyak lagi tentang hal apapun. Sungguh tuhan aku ingin berlama-lama dengan kondisi ini. Bersamanya.

Sangat jarang ada seorang perempuan yang mengajak seorang laki-laki kerumahnya, padahal kami hanya kenal dan bertemu beberapa kali saja. Ah urusan ini tidak serumit yang dibayangkan. Hanya satu modalnya. Kepercayaa. Dia sangat menghargai sebuah kepercayaan.
Paling tidak aku punya teman seperti ini disini kalau aku kembali lagi kekampung halaman. Hari ini izinkan aku untuk mensyukuri apa yang terjadi, kehadiranmu cukup membuat ruang kosong ini sedikit terisi. Bertemu kembali adalah sebuah keinginan. Tuhan punya cara sendiri untuk mempertemukan kita lagi. Terima kasih.

Oh ya aku lupa saat ingin pamit pulang tadi aku lupa beri salam.

Assalamualaikum... 
Rabu : 17 : April : 2013
18 : 50
Di Amuntai : HSU

Senin, 01 April 2013

Pesan itu akan tiba kepadamu



Pesan ini akan tiba kepadamu, entah dengan cara apa. Bahasa yang kutahu kini hanyalah perasaan. Aku memandangimu tanpa perlu menatap. Aku mendengarkanmu tanpa perlu alat. Aku menemuimu tanpa perlu hadir. Aku mencintaimu tanpa perlu apa-apa. Karena kini kumiliki segalanya.

Kupandangi langkahmu yang ringan dan tampak seperti melayang, berjalan dengan irama konstan. Engkau tak seperti orang yang berjalan di atas pasir, yang kebanyakan tampak berat dan canggung. Barangkali karena telah ratusan kali kau lakukan itu, menyendiri di tepi patai, menyusuri garisnya seperti merunut urat laut. Tapak kakimu sudah tahu bagaimana bersahabat dengan pasir yang kadag menggembung dan kadang mengempis dimainkan napas ombak.

Matamu mencari bola merah yang disembunyikan arakan awan mendung. Sesekali kau buang pandangan ke arah lain, sekedar menyakinkan kau tak sendiri di dunia ini, karena seringnya engkau berharap demikian. Sesekali pula kau buang pandangan ke belajan langit di bahu kananmu, yang berwarna-warni antara ungu, biru, dan abu, yang menggetarkanmu sama hebatnya dengan bola merah yang kau telisik sejak tadi.

Pesan itu akan tiba kepadamu, bathinku. Namun entah dengan cara apa.