Senin, 30 April 2012

Kau datang, dengan segala kegenapanmu. Kau datang bahkan dengan nama. Kau datang, dengan segala pelajaran dan kebijaksanaan.

Kau datang, dengan segala kegenapanmu. Kau datang bahkan dengan nama. Kau datang, dengan segala pelajaran dan kebijaksanaan.


Saat kau tiba, aku tak lagi menjadi manusia yang sama. Dan juga kau akan melihat dunia yang berbeda. Selapis kulit tabir saja yang membatasi kita. Tapi sungguh berkuasa. Perjalananmu, kata kau dulu, adalah perjalanan yang akan mengingatkan mereka yang lupa. Termasuk aku. Keterpisahan adalah ilusi. Dunia jasad dan dunia roh, dunia materi dan dunia energi ; hanya dua sisi dari koin yang sama. Hidup tak pernah berakhir mati. Hidup hanya berganti wujud. Dan sepanjang perjalanan bernama hidup kau dan aku, kita semua, hanya berjalan menembusi satu tabir saja. Membolak-balikan koin yang sama. Menyebrangi selapis kulit.

Kau datang, dengan segala kegenapanmu. Kau datang bahkan dengan nama. Kau datang, dengan segala pelajaran dan kebijaksanaan. Namun kau juga akan sejenak lupa, begitu katamu dulu. Sama seperti kita yang dibut lupa saat menyebrangi tabir itu. Tolong ingatkan aku, pintamu. Aku memilihmu karena kita pernah sama-sama berjanji pada satu sama lain, lanjutmu lagi. Saat kita berdua masih sama-sama ingat. Saat kita berdua masih sama-sama di sisi lain dari koin ini.

Entah bagaimana harus aku mencintaimu. Kau lebih seperti guru dan sahabat. Waktu kau tiba, biarlah alam yang mengajarkanku untuk mencintaimu lagi dari nol. Seolah kita tak pernah tak pernah bertemu sebelumnya. Seolah kita tak pernah bercakap-cakap bagai dua manusia dewasa, karena dalam bahasa jiwa seolah yang kusebut sebelumnya tiada guna. Waktu, usia, dan perbedaan jasad kita, lagi-lagi hanyalah hadiah dari sisi koin dimana kita sekarang tinggal. Hadiah yang harus dirangkuh dan diterima.

(dee)

Buku-ku Teman-ku


Oleh : Muhammad Elhami
Aku menkmati sekali hidupku yang sekarang ini walau berbagai kesumpekan selalu menghadiri dan terkadang sangat menyebalkan sekali, membuat aktifitas yang aku rancang sedemikian rupa mungkin menjadi kacau dan semua tak beraturan. Saat aku dilanda begini, dilanda kepuyengan yang aku rasa hanya hal-hal kecil, tapi tak bisa aku anggap remeh-temeh. Mencari dan menyemangati diri bukan perkara yang mudah. Banyak orang selalu terbawa oleh keadaan, keadaan membuat dirinya mengalir.

Sesungguhnya aku itu selalu sendiri ditempat keramaian, sendiri dengan diriku sendiri, tanpa orang lain mengetahui,  kadang apa yang aku pikirkan? Dosa dan kematian. Dosa selalu hadir dan selalu bertambah dalam hidupku ini. Sedangkan kematian, aku sering bertanya-tanya, kapan kematian itu datang menghapiriku?.....

Pertanyaan-pertanyaan yang sangat rumit sekali dan sangat dekat sekali, kali berlalu dunia selalu melupakannya. Melupakan untuk memikirkannya. Kalau begini aku harus mencari sesuatu agar selalu ingat akan hal ini. Sudah lupakan sejenak.

Faktor orang lain itu hanya sedemikian persen saja bisa membuat diri menjadi semangat, diri sendirilah yang paling berperan untuk menyemangati diri sendiri. Ini lah yang aku alami dan aku rasakan. Saat semua menjadi kacau, berantakan, aku bergegas mencari tempat dan sesuatu agar semangat ini kembali  tenang, senang, damai dan bersahaja.

Lantas aku lari kemana? Benda mati yang didalamnya dapat membuka, membawa aku kedalam dunia luar sana, bahkan dapat menembus langit, bumi dalam alam akhirat. Dialah BUKU menjadi sahabat setiaku saat ini, dengan buku aku bisa berdamai dengan keadaan. Aku bisa mengenal siapa saja. Inilah jalanku untuk memberi semangat untuk diriku sendiri. Diriku yang selalu membawa kontroversi dimanapun aku berada.

Jumat, 27 April 2012

Tugas Mahasiswa bukan Hanya Kuliah!


Politik layaknya air kopi, pahit namun nikmat dan diramu dengan kemahiran demi mencapai kemakmuran. Dimulai dari seluk beluk kepahitan, kebebasan dikekang, tanpa bisa berkoar menyuarakan keadilan. Nampaknya keadaan tersebut sesuai dengan kondisi mahasiswa Orde Baru yang seakan vakum dalam kegiatan oposisi.

Salah satu gerakan mahasiswa tersebut adalah kritikan terhadap pemerintah mengenai strategi pembangunan dan kepemimpinan nasional pada tahun 1977-1978. Ternyata kegiatan tersebut menjadi pemicu penyerbuan dan pendudukan militer terhadap kampus-kampus perguruan tinggi Indonesia.

Praktek restruktuisasi politik menjadi langkah yang ditempuh bapak pembangunan dengan menghapus Dewan Mahasiswa (DM) dan mengeluarkan SK Kopkamtib No Skep 02/kopkam/1978 dan SK Menteri Pendidikan dan Kebudayaan RI No 0156/U/1978 tentang Normalisasi Kehidupan Kampus (NKK) demi membungkam kebebasan mahasiswa yang bergerak mengikuti nalar intelektualitasnya. Namun puncaknya, pada tahun 1998, persatuan mahasiswa berhasil menggulingkan rezim Orde Baru dengan libasan bertubi tanpa ampun. Raga dan ruh perjuangan menyatu demi keadilan yang sesungguhnya. Sehingga era reformasi telah digenggam dengan mulus. Sejak saat itu, mahasiswa semakin menunjukkan taringnya yang mencabik segala keputusan pemerintah yang merugikan.

Mahasiswa acapkali dianalogikan sebagai agent of change, yaitu kumpulan pemuda pencetus perubahan yang seringkali bertindak oposisi terhadap rezim yang berkuasa. Pemilik paradigma idealis yang berpikir demi pengabdian dalam masyarakat, itulah mahasiswa. Mahasiswa juga dianggap sebagai pelopor runtuhnya kekuasaan perenggut kebebasan. Sehingga banyak kalangan yang menganggap bahwa mahasiswa merupakan ancaman terhadap suatu golongan. Maka dibutuhkan pemikiran cerdas dan pengawasan dalam melakukan suatu tindakan. Mahasiswa harus tetap berpikir idealis, tanpa dipengaruhi kepentingan politik nasional tertentu.

Lalu bagaimana dengan politik kampus? Apakah ternoda layaknya dunia perpolitikan nasional? Hakikatnya, mahasiswa dan politik terpatri bagai benang kusut, sulit dipisahkan, namun tidak seratus persen menyatu. Secara tidak langsung kehidupan politik nasional membawa pengaruh besar pada kancah perpolitikan kampus. Kepemerintahan nasional acapkali sama dengan sistem kepemerintahan kampus. Sebab itu, mahasiswa selaku aktivis diharapkan menjadi pelopor perubahan yang berperan dalam pengawasan, pengabdian, serta menyuguhkan perilaku positif demi kelangsungan sistem kemasyarakatan kampus.

Peran mahasiswa sebagai pengawas berbagai kebijakan pemerintah dapat direalisasikan dengan cara pembentukkan organisasi atau aliansi yang berperan aktif dalam mengawasi dan menakar ada tidaknya keputusan yang bersifat merugikan rakyat. Oleh karena itu harapan besar membuncah tinggi pada setiap individu terhadap sepak terjang mahasiswa dalam mengusung perubahan yang lebih baik.

Namun bila kita amati, tidak semua penghuni kampus berinisiatif mendalangi lakon politik dengan memasuki salah satu partai, dan bermain adegan di sana. Terdapat mahasiswa praktisi intelektual akademisi yang berpola pikir anti politik dan anti aliansi. Padahal suatu kegiatan politik atau aliansi pun diperlukan dalam mengembangkan kecerdasan pemikiran serta menjaring sebanyaknya ilmu yang tidak didapatkan pada forum perkuliahan. Sikap apatis mereka cenderung mengaliensi diri dari hiruk pikuk hegemoni, memandang sambil mengernyitkan dahi terhadap apa itu tindakan oposisi.

Bila kita maknai lebih dalam, kontribusi kita terhadap kancah perpolitikan sebenarnya diperlukan dalam menempatkan diri terhadap kehidupan sesungguhnya. Seorang individu tidak hanya dapat dikatakan sukses apabila dia hanya mendapatkan Indeks Prestasi Kumulatif (IPK) tinggi, namun juga kepiawaian olah diri dalam membawakan kepribadian yang dapat membaur pada lingkungan sekitar juga dinilai penting.

Seluk beluk perpolitikan dalam ranah kampus memang belum dipahami secara merata oleh mayoritas mahasiswa, padahal kampus merupakan pusat intelektualitas, tempat pengembangan ranah pemikiran dan tindakan. Tidak hanya berharap IPK tinggi, namun dapat pula berkontribusi dan ikut andil terhadap pemecahan masalah di negeri ini. Lalu, apa pula yang menyebabkan mahasiswa cenderung apatis terhadap kegiatan baik perpolitikan maupun organisasi? Terdapat dua asumsi yang dinilai menjadi tembok besar penghalang mahasiswa untuk aktif di ranah kampus.

Pertama, takut akan suatu hal yang baru. Lingkungan universitas kadang membuat tercengang bagi mata yang baru melihatnya. Bila dahulu hanya berada dalam lingkup sekolah, kini dibuat heran dan ternganga dengan banyaknya organisasi hingga adanya sistem perpolitikan yang merupakan duplikat politik nasional. Di sini selayaknya kita sebagai mahasiswa selayaknya memiliki keingintahuan tinggi terhadap suatu organisasi kampus, tidak apatis dan harus berani mencoba.

Kedua, paradigma IPK besar tanda kesuksesan. Sebagian mahasiswa cenderung berlomba demi meraih prestasi di atas bangku perkuliahan dengan harapan dapat memetik kesuksesan. Mereka berasumsi akan mudah menduduki jabatan pada pekerjaan apabila mengantongi IPK tinggi. Namun alangkah baiknya bila di samping itu, terdapat pula kontribusi dan keaktifan di sela aktifitas perkuliahan. Tidak sedikit para aktifis kampus yang dengan mudah mengenyam kesuksesan, dan banyak pula para pemilik IPK tinggi yang terpuruk akibat menganggur.

Mahasiswa sebagai agent of change selayaknya tidak menjadi mahasiswa yang apatis, mencari ilmu tidak hanya terpaku pada petuah dosen dan IPK tinggi. Carilah ilmu layaknya orang yang kehausan di padang pasir, ketika terlihat air, ditelan habis sampai ke sumbernya.

(sumber : http://blog.um.ac.id/msonhajiakbar/2012/03/26/tugas-mahasiswa-bukan-hanya-kuliah/)


Kamis, 26 April 2012

Wajah Telaga


Wajah telaga tak pernah berdusta
Ia bergetar saat udara halus menyapu mukanya
Ia berteriak saat angin lincah mengajaknya menari
Ia tak menghindar dari undangan alam tempatnya menghampar
Menghadap awan yang menunggu sabar
Dini hari datang untuk keduanya bertemu
Ia membeku saat langit memecah menjadi miliaran kristal putih
Ia mencair saat matahari kembali di angkasa tanpa serpih
Ia tak bersembunyi dari perubahan gejolak hati
Menanti awan yang berubah tak pasti
Hingga pagi datang
Dan keduanya berpulang pada kejujuran
Izinkan wajahku menjadi wajah telaga
Merona saat disulut cinta
Menangis saat batih kehilangan kata
Memerah saat dihinggapi amarah
Menggurat saat digores waktu
Izinkan wajahku bersuara apa adanya
Bagai telaga yang tak menolak lumut juga lumpur
Namun tetap indah dalam teguh dan ikhlasnya
Kepada udara, kepada surya, kepada alam raya
Menanti engkau yang melayang mencari arti hingga dini hari datang
Lalu kau luruh menjadi aku dan aku hidup oleh hadirmu
Bersua tanpa samaran apa-apa
Saat semua Cuma cinta
Cinta semua saat
Dan bukan lagi saat demi saat

(dee)

Rabu, 25 April 2012

SKRIPSI


Kata seorang dosen “Jerih payah kita, nikmatnya kuliah, asem manisnya kuliah terlihat bagaimana hasil akhir dari tugas kita yaitu skripsi”. Skripsi bisa jadi sebagian mahasiswa adalah momok yang sangat menakutkan. Tak hanya itu bahkan kebingungan pun melanda. Mulai dari mencari judul, dapat dosen pembimbing, objek yang diteliti, sampai dengan seminar. Kesemua itu memiliki masa-masa yang sangat sulit. Bagaimanapun kurasa pikiran dan tenaga sepenuhnya kita tuangkan dan keluarkan untuk menghasilkan skripsi yang benar-benar skripsi sesungguhnya.
Aku pun sudah merasakan dan mencium aura tugas skripsi ini semakin hari semakin mendekat saja. Seyogiyanya mulai sekaranglah paling tidak di planning-kan untuk skripsi kita. Mengantisipasi hal-hal yang tidak kita inginkan pada saat hari itu dan tugas itu benar-benar sudah ditangan kita.
Kemudian temen-temanku pernah bilang juga ada sebagian dosen yang mengatakan bahwa mencari judul atau objek itu yang biasa-biasa saja, biar cepat selesai. “Ah kalau mengatakan begitu bisa membuat mahasiswa tidak termotivasi dalam mengerjakan skripsinya, bisa jadi mahasiswa hanya asal-asallan mengerjakannya, jangan sampai ada yang namanya plagiat dalam skripsi” Ujar kata temenku.
Aku setuju itu, skripsi merupakan cerminan mahasiswa itu sendiri, bagaimana tidak semua teori dan aplikasi dapat diterapkan dalam tugas skripsi ini. Skripsi itu murni tugas individu, murni kerja keras kita sendiri, murni hasil olah pikir sendiri dengan metode-metode ilmiah yang telah diatur.
Skripsi adalah tantangan menarik bagi mahasiswa, tantangan yang menurutku bisa menumbuhkan kedewasaan, menumbuhkan komunikasi, jaringan, dan perkembangan ilmu yang telah didapatkan di bangku perkuliahan.
Nah, sobat tugas skripsi itu dinikmatin saja, yakin deh dengan usaha Lillahi Ta’ala, semua akan menghasilkan sesuatu yang indah. Percaya “Didalam kesulitan itu pasti akan ada kemudahan”
Lulus tanpa skripsi rasanya hambar deh ^_^

Muhammad Elhami
Ketua Umum LPM Jurnal Kampus FE Unlam

Merawat Semangat Menulis


Dari para penulis sukses kita belajar betapa pentingnya menjaga konsistensi dalam penulisan. Konsistensi ini sangat menentukan keberhasilan seseorang berkarier dalam dunia tulis-menulis. Kendati banyak orang yang paham betapa pentingnya konsistensi dalam penulisan, tapi tak banyak  yang berhasil mempertahankannya. Banyak kendala dalam perjalanan menyebabkan sang calon penulis sukses urung melanjutkan langkahnya. Dia memilih untuk berhenti karena merasa melakukan sesuatu yang sia-sia, bahkan merasa tidak berbakat sama sekali.

Begitulah kisah para calon penulis yang memilih off daripada melanjutkan mengayuh dayung mencapai pulau tujuan: menjadi penulis yang berhasil. Sebenarnya manusiawi saja kalau orang membatalkan niatnya untuk menjadi penulis, toh masih ada banyak profesi lain yang bisa digeluti dan cukup menjanjikan. Akan tetapi, bagaimana jika tarikan keinginan untuk menulis itu selalu datang dan memanggil-manggilnya untuk kembali menulis? Tapi, apa daya, tarikan itu tak mampu menggoyahkan niatnya untuk kembali. Ia suntuk dengan profesi lain, padahal ruh-jiwanya ada pada dunia penulisan.

Persoalan yang acapkali menjadi kendala dalam penulisan adalah kehilangan semangat menulis saat menempuh perjalanan panjang yang melelahkan. Dalam perjalanan itu, godaan untuk pergi dari dunia penulisan selalu saja ada. Godaan untuk lepas dari komitmen untuk menjadi penulis bisa hadir kapan saja. Bagi sebagian orang, akan memilih keluar saja dan mengikuti niat atau profesi barunya itu. Bagi sebagian lain,  memilih tidak mempedulikan godaan itu. Ia tetap konsisten menulis karena ia menanamkan komitmen untuk menjadi penulis yang berhasil kelak.

Nah, beberapa hal yang bisa menyemangati kita untuk menjaga dan merawat semangat menulis, diantaranya, pertama, jadikan pekerjaan menulis sebagai arena pengabdian. Dengan menjadikannya sebagai arena pengabdian, maka kita akan lebih kuat bertahan dari godaan untuk keluar dalam lingkaran penulisan. Kedua, jadikan menulis sebagai wujud ibadah. Orang memilih banyak cara untuk beribadah dengan menekuni bermacam-macam kegiatan. Kita yang suka menulis, seyogianya menjadikan kegiatan menulis sebagai bentuk ibadah kepada Tuhan, wujud amal-bakti dan sebagai bukti bakti kita kepada Tuhan dan sesama.
Ketiga, jadikan kegiatan menulis sebagai medan perjuangan untuk mencapai visi hidup. Misalkan, visi hidup kita adalah untuk turut  mencerdaskan masyarakat Indonesia, maka patri-lah visi itu di dalam benak dan wujudkan ke dalam karya nyata. Misalkan, visi hidup kita adalah untuk menjadi penulis profesional, ukir-lah itu di dalam hati dan segera membuatnya menjadi kenyataan.  Ini tantangan! Beranikah kita menyambutnya?
Salam menulis.

(sumber : http://edukasi.kompasiana.com/2012/04/01/merawat-semangat-menulis/)


Selasa, 24 April 2012

Sikap dan Sifat Yang Dibutuhkan Dalam Organisasi


Pada dasarnya, sikap dan sifat dasar yang dibutuhkan dalam organisasi sangatlah relatif. Tergantung dari apa jenis organisasi, tujuan, tradisi dalam organisasi, kapasitas orang didalam organisasi, dan lainnya.
Namun, secara garis besar, beberapa hal berikut berlaku secara umum dikebanyakan organisasi. Organisasi komersial ataupun non komersial. Organisasi pemerintah, maupun organisasi non pemerintah.
Apa saja? mari kita lihat :

Kejujuran

Kata pepatah lama : Kejujuran adalah mata uang yang berlaku dimana-mana. Di organisasi juga tentunya. Jujur dalam berorganisasi misalnya jujur saat mengemukakan pendapat, laporan, jujur masalah uang, jujur dalam menilai kinerja, dan lain-lain.
Jujur berkaitan dengan masalah moralitas, realita, dan fakta. Maka, masalah kejujuran pada dasarnya berangkat dari hati nurani seseorang. Tidak jarang, banyak oknum dalam organisasi berbuat dan berkata tidak jujur untuk menutupi sesuatu.
Misalkan, seorang auditor sedang mengaudit keuangan sebuah perusahaan. Dalam penyelidikan dia menemukan banyak kejanggalan dan kecurangan. Namun karena diimingi uang, atau mungkin karena mendapat ancaman dari perusahaan yang bersangkutan, akhirnya dia memanipulasi data penyelidikan.
Atas kepentingan tertentu dalam organisasi, terkadang kita dipaksa oleh keadaan untuk berbuat tidak jujur. Kadang ada kesempatan mendapatkan keuntungan dari ketidakjujuran yang kita buat. Kadang kita terpaksa berbuat tidak jujur karena alasan-alasan tertentu yang menurut kita baik
Banyak orang melakukan pembenaran dengan mengatakan atau berpegang pada istilah “bohong untuk kebaikan itu tak masalah” sehingga dengan mudah mereka berbuat atau berkata tidak jujur.
Dalam sebuah sumber agama tertentu, disebutkan “Katakanlah yang sebenarnya, walaupun itu pahit bagimu“. Disini kita melihat apakah sebenarnya memang dibenarkan adanya “bohong untuk kebaikan?” padahal sebenarnya bohong itu sendiri adalah hal yang buruk.
Namun, dalam kondisi tertentu memang efek dari kejujuran bisa lebih pahit daripada jika kita berbohong. Disinilah kita dituntut berani mengemukakan kebenaran dengan jujur

Loyalitas

Loyalitas mengacu pada kesetiaan pada organisasi, kerelaan berkorban untuk organisasi, dan hal-hal lain yang sifatnya herois. Loyalitas akan menggerakkan motor-motor organisasi untuk tetap bekerja meski dalam kondisi yang tidak menguntungkan, kondisi kekurangan, atau kondisi-kondisi buruk lainnya.
Pada kasus-kasus tertentu, suatu organisasi dapat bertahan karena memiliki anggota-anggota yang loyal. Padahal, secara program organisasi tersebut bisa dikatakan tidak bergerak sama sekali
Ada banyak hal yang membuat orang menjadi loyal pada sebuah organisasi. Kebanyakan orang menjadi loyal karena telah memahami seluk beluk organisasi itu, masalah, tantangan yang dihadapi organisasi dalam kaitannya dengan tujuan organisasi itu, atau karena telah lama berorganisasi disitu.
Anggota yang loyal, ibarat seorang pejuang yang rela tetap semangat berperang dalam kondisi perut lapar, amunisi dan senjata kurang, walaupun pasukan diambang kekalahan.
Salah satu contoh loyalitas yang cukup sempurna diperlihatkan dalam sebuah film epik berjudul “300 (three hundred)” yang mengisahkan peperangan antara pasukan perang Sparta (Yunani) dibawah pimpinan Leonidas melawan pasukan Persia dibawah pimpinan Xerxes.

Komitmen dan tanggungjawab


Jika loyalitas berkerabat dengan kesetiaan, maka komitmen dan tanggungjawab tidak demikian. Komitmen dan tanggungjawab lebih mengarah pada kesepakatan atau janji yang telah dibuat.
Lebih dalam lagi, komitmen dan tanggungjawab dapat diartikan
“memegang teguh amanat, kesepakatan, janji, tugas  yang telah dibuat atau diterima (diucapkan ataupun dituliskan) dan menyelesaikannya dengan bersungguh-sungguh dengan semaksimal mungkin (mengerahkan kemampuan maksimal untuk mencapai tujuan atau tugas tersebut)”.
Tanpa loyalitas sekalipun orang dapat berkomitmen dan bertanggung jawab. Bahkan tanpa ikatan emosional dengan organisasi tersebut sekalipun. Namun pada umumnya, komitmen dan tanggungjawab yang kuat tercipta dari hubungan internal, emosional, dan kekeluargaan yang kuat, meski tidak selalu akur
Kesepakatan yang dimaksud dapat berupa kesepakatan dari diri sendiri dengan diri sendiri, kesepakatan antar individu, ataupun kesepakatan antar lembaga/organisasi
Kesepakatan dari diri sendiri pada diri sendiri mengacu pada pertentangan pribadi (batin) seseorang. Dimana biasanya selalu ada pro dan kontra didalam diri seseorang atau suatu yang dipikirkan atau akan dilakukan, lalu terjadi kesepakatan damai dan memunculkan komitmen serta batasan-batasannya (atau tidak terbatas sama sekali). Dari komitmen ini kemudian lahirlah tanggungjawab untuk mewujudkan komitmen tersebut
Kesepakatan antar individu maupun antar lembaga adalah kesepakatan atara satu pihak dengan lainnya. Baik dikemukakan secara tertulis maupun lisan. Namun dewasa ini, kebanyakan kesepakatan yang dapat dipertanggungjawabkan secara hukum adalah kesepakatan tertulis.

Kekeluargaan dan rasa saling memiliki

Kekeluargaan  atas suatu organisasi berawal dari rasa nyaman yang ditimbulkan didalam internal organisasi tersebut. Kemudian muncullah rasa memiliki. Kekeluargaan dan rasa memiliki ini merupakan proses sebab akibat yang sangat erat. Keduanya saling mempengaruhi.
Keduanya berakibat pada rasa nyaman antar anggota didalam organisasi tersebut, dan akhirnya mempengaruhi pula ikatan emosional, kinerja, dan lain-lain.
Jika seorang anggota organisasi telah merasa memiliki atas suatu organisasi, maka dia takkan segan berbuat banyak untuk organisasinya, bahkan tanpa pamrih. Hal ini mungkin karena anggota tersebut melakukannya atas dasar pengabdian, bukan sekedar tugas atau mengerjakan program
Pada umumnya kekeluargaan dan rasa memiliki ini tercipta karena intensitas interaksi dan komunikasi yang banyak. Sesama anggota sering bertemu, berdiskusi, bersenang-senang, berkegiatan, berbagi suka duka, lama kelamaan akan terpupuklah kekeluargaan dan rasa memiliki yang kuat
Kekeluargaan dan rasa memiliki dikalangan anggota organisasi memungkinkan munculnya kecintaan pada organisasi tersebut. Bisa dibayangkan, jika seseorang sudah cinta, maka apa saja mungkin dia lakukan, bahkan dengan dasar dan alasan yang tidak rasional sekalipun
Namun, sifat kekeluargaan dan rasa memiliki ini bisa muncul setelah seseorang masuk dalam organisasi dan / atau berpartisipasi didalamnya. Banyak juga non anggota yang berpartisipasi aktif dalam sebuah organisasi. Mereka-mereka ini sering disebut “Simpatisan” atau orang yang bersimpati.

Kemauan untuk berkembang

Hal ini sangat penting, tidak hanya bagi diri sendiri, tetapi juga bagi organisasi yang bersangkutan.
Dunia sangat dinamis, begitu juga dengan manusia. Selalu terjadi perubahan baik cepat ataupun lambat. Baik itu perubahan pola, prinsip, cara, dan lain-lain
Kemauan untuk berkembang menunjukkan keterbukaan pada hal-hal baru yang masih asing. Hal ini juga menunjukkan bahwa dalam diri seorang anggota itu atau organisasi itu, ada keinginan untuk selalu meningkatkan kualitasnya, sehingga yang dihasilkan organisasipun meningkat baik kualitas ataupun kuantitasnya,
Hampir semua organisasi membutuhkan anggota yang punya sifat ini. Namun, terkadang ada juga organisasi tertentu, entah disadari atau tidak, atau memang disengaja, membiarkan anggotanya atau organisasinya tetap statis/monoton. Tentu setiap organisasi punya tujuannya sendiri-sendiri
Efeknya pada organisasi sangat signifikan, dengan memiliki anggota organisasi atau organisasi yang mau berkembang, organisasi tersebut berpotensi untuk bertahan lama, berjalan beriringan dengan jaman, selalu sesuai dengan kebutuhan, atau bahkan melampaui capaian pada jamannya.

Cara berkomunikasi yang efektif dan efesien

Disadari atau tidak, komunikasi yang efektif dan efisien ini menjadi kunci kesuksesan di hampir semua aspek dalam organisasi.
Seorang teknisi ingin menjelaskan alat-alat dan gunanya pada saat presentasi di masyarakat, dengan apa? Tentu dengan komunikasi yang baik dan pas. Seorang manajer ingin menjelaskan rencana-rencananya, dengan apa? Diam? Tak mungkin. Tentu dengan komunikasi
Seringkali terjadi, yang membuat suatu produk tidak laku dimasyarakat bukan karena produk itu jelek, tetapi karena penyampaiannya pada masyarakat yang tak efektif dan efisien.
Sering kali dalam organisasi, kita menjelaskan panjang lebar tentang konsep yang kita buat, tetapi ditolak oleh segenap hadirin. Mengapa? Ternyata karena penyampaian kita tidak ditangkap atau dimengerti secara maksimal oleh pendengar.
Ironis bukan, rencana yang telah kita buat secara sangat matang dalam hal teknis, malah gagal atau ditolak karena kita tidak mampu menyampaikannya pada resipien (penerima informasi)?
*************************
Pada umumnya anggota-anggota organisasi yang telah mapan dan dewasa mengetahui betapa pentingnya beberapa hal diatas dalam sebuah organisasi. Organisasi besar biasanya punya tradisi khusus untuk terus menyampaikan/mentransformasikan hal-hal penting di organisasinya kepada anggota-anggota baru.

(sumber: enviroleeb.wordpress.com)
(sumber kedua : http://hutantropis.com/sikap-dan-sifat-yang-dibutuhkan-dalam-organisasi)