Selasa, 10 April 2012

NitNot "Berdansa Tanpa Musik"

                                                          NitNot "Berdansa Tanpa Musik"
Dia gadis manja dalam bicaranya, wajahnya manis dan cantik sekali, matanya memancarkan rahasia tentang sebuah isi hati, penampilanya sama seperti orang lain kebanyakan, walaupun dia orang biasa-biasa saja tak pintar dan tak terlalu pintar juga, sedang-sedang saja lah. Nitnot namanya. Ah seperti bunyi nitnot piano saja atau nitnot seperti gitar atau lagi nitnot seruling, atau seperti apa yaa, yah itulah namanya. Sepertinya pas dan cocok buat karakter dirinya dengan menyandang nama itu. Nitnot hehe lucu yaa.
Awal kenalan dengan nitnot pada saat masuk kedalam organisasi jurnalistik, setelah memberikan lembaran formulir masuk organisasi, terlihat gambar dengan kerudung coklat. El lelaki kurus yang berasal dari kampung hulu sungai sana yang hanya membawa modal sebuah keyakinan bahwa orang berilmu akan ditinggikan derajatnya, el memilih perguruan tinggi universitas lambung mangkurat sebagai tempat kuliahnya. Karena el merasa gengsi bila kuliah ditempat asalnya, maklum mulai sekolah dasar sampai aliyah atau sma el hanya menggunakan sepeda injak untuk datang kesekolah. “el sanggup tidak kuliah disini dikampung, el lihat teman-teman el semua pakai kendaraan bermotor,” ibunya menanyakan kepada el yang lagi tertunduk memikirkan sanggup atau tidaknya. “iya sanggup tidak ya kuliah disini masih menggunakan sepede injak,” kata el dalam pikiran. Lama terdiam untuk memilih mana yang terbaik baginnya, akhirya dengan niat dan keyakinan el memutuskan untuk memilih merantau ke banjarmasin untuk menuntu ilmu di perguruan tinggi unlam.
Sebelumnya el tak pernah sama sekali menjajakkan kaki ditanah banjarmasin, el hanya pernah mendengar nama kota itu, menurutnya pasti jauh sekali. Dengan harap-harap cemas ibu el merelakan anaknya untuk pergi merantau, namun el masih belum terdaftar secara resmi di unlam, el masih harus menyelasaikan rigestrasi ulang dengan bayaran 1.005.000,- . ibunya el tau uang sebesar itu tak ada, tapi ibunya berusaha agar el tidak melihat kegelisahan yang dihadapi ibunya.
Walaupun ibunya menyimpan kegelisahan bagaimana untuk membayar rigestrasi ulang dengan biaya segitu, el tau dan bertindak berinisiatif bagaimana agar bisa mendapatkan keringanan. El kumpulkan syarat-syarat yang hanya tebakkan saja untuk melengkapinya, el minta surat keterangan tidak mampu dengan rt setempat, surat keterangan temapt asal sekolahnya, bukti kelulusan dan biodata diri. El yakin ini akan berhasil, kalau berhasil maka el mampu untuk membayar separu dari biaya tersebut.
El minta kepada teman akrabnya zai, utnk bisa mengantarkan utnk mencari taksi, el bermalam dirumah zai karena dekat dengan kota. Pagi-pagi el sudah bangun jam 4 untuk bersiap-siap tapi temannya ini zai masih saja tidur, el dengan sabar saja menunggu waktu bangun untuk mengantarkannya. Akahirnya waktu itu datang juga, el masuk taksi amuntai warna putih, dan ahh baunya sangat memusingkan, maklum el bar pertama kali naik taksi sehingga bau itu asing baginya, seandainya el masih kekanak-kanakan bisa muntah, namun el mencoba bertahan saja dengan tenang dan tidak mengeluh.
(Novelku Bagian 1)
Karya : Muhammad Elhami
Mahasiswa : Fakultas Ekonomi Unlam

Senin, 09 April 2012

Tinggalkan Pesan

Tinggalkan Pesan


Ku ingin suatu waktu kau tinggal disini
Biarkan jemarimu yang rahasia meramal sendiri tunas-tunas hari
Yang membimbing buah cinta memahami benci
Kakimu berlari mengejar kereta dan menghitung jam kota
Yang tak pernah tua
Tubuhmu yang runcing menancapi lubuk hati setiap penghuni
Matamu yang tulus takkan ungkapkan rindumu pada rumah
Dan aku yang tak pernah keluar dari takut akan benci
Jika engkau tua nanti, tuliskan pesan pendek pada sajakku
Sebab engkau tak juga tau
Bahwa kebencian itu sesuci kata-kata
Dan aku tak ingin kau percaya

22 : 01 PM

Minggu, 08 April 2012

Kehendak Itu Terkabulkan

                                               Kehendak Itu Terkabulkan



Ini seperti sebuah kemudahan, sebuah jawaban atas kehendak, do’a yang selalu di idam-idamkan oleh pengurus Jurnal Kampus terdahulu hingga sampai saat ini. Do’a itu sudah didepan mata dan telah menjadi nyata. Ruangan atau sekretariatan untuk LPM Jurnal Kampus akan segera dibingkai. Sepetak ruang kosong yang bertempat dibelakang perpus, dekat koperasi dan moshalla dan strategis sekali akan disulap menjadi tempat berkumpulnya orang-orang yang berpikir lain daripada yang lain.
Pasca dialog bersama itu Dekan dan jajaran langsung merespon bahwa Jurnal Kampus akan diberikan ruangan, sebagaimana diketahui bahwa selama ini Jurnal Kampus bekerja untuk menerbitkan majalah dan buletin diluar. Sabtu kemarin Dekan, Pembantu Dekan II, Pembantu Dekan III, dan ketua ikoma langsung turun lapangan membantu bersih-bersih dan memberikan arahan untuk ruangan ini sebaiknya seperti apa.
Maka disepakatilah bahwa nanti akan disekat disemen diplaponi, dan lain-lainnya. Semua berkas-berkas sudah dialihkan dan menjadi kosong. Kosong karena siap akan diberi dandanan oleh ahlinya yakni tukang bangunan.
Lantas apa yang diharapkan oleh Fakultas dan Keluarga Jurnal Kampus dengan ruangan yang baru ini?....
“Dijaga kebersihan, dibikin rapi dan nyaman, karena ini milik kita bersama,” Ujar M. Saleh. Tentu ini sudah pasti akan dilaksanakan. Namun saya sebagai pimpinan Jurnal Kampus berharap dengan fasilitas baru ini kinerja anggota akan semakin meningkat dengan dirangkai kebersamaan, keakraban, dan saling memiliki.
Hanya itu saja kok, mudah kan hehehe ^_^

Yang nulis : muhammad elhami
Senin, 9 april 2012
11 : 59 pm

Jumat, 06 April 2012

Pancaran Matahari


Pancaran Matahari


Biarkan sebuah pagi kembali
Melewati gelapnya jalan ini
Mengendap dari dasar perigi
Dan saat pancaran matahari
Terlukis wajahmu dilangit
    Ku biarkan engkau lewat jalan ini
    Meniti bilah-bilah puisi
    Setipis ilalang, selunglai untaian jemari
    Untuk semata menandai
    Bahwa usiamu terpangkas
Hanya dengan himpunan puisi
Pesta itu dirayakan berulang kali
Hanya dengan pancaran cahaya matahari
Perempuan sepertimu percaya pada ujung hari
Sebuah senja itu nyaris abadi

21 : 28 PM

Rabu, 04 April 2012

HARI INI MELELAHKAN

                                                     HARI INI MELELAHKAN

Melelahkan, yaa hanya kata-kata ini yang bisa menggambarkan keadaanku hari ini selasa 4 april 2012. Hanya dua mata kuliah mampu menguras banyak pikiranku, bagaimana tidak tugas dua mata kuliah ini belum selesai aku kerjakan, ditambah dengan keadaan fisikku yang lagi lemas, pegal, dan kurang semangat.
Aku harus kuat dikelas menghadapi teman-teman yang persentase dimuka, aku ngantuk sekali dan sangat malas, ,malas bertanya, malas menulis, malas membaca, dan dengan terpaksa aku berpikir. Ahhhh melelahkan sekali.
Ada lagi perut kosong, ckckck yah ini kondisi yang selalu rutin aku ritualkan beberapa tahun terakhir ini, pagi ga pernah makan nasi, aku hanya minum da ngemil mie, ujar banyak modharatnya kalau kita mengkonsumsi mie, tapi mau dikata apa, namanya anak perantauan, makan apa saja oke.
Apalagi?...tugas banyak yang tidak selesai, kondisi fisik lagi lemah, semangat beraktivitas kurang, mata mengantuk plus perut kosong.
Inilah aktivitas dalam dunia mahasiswa....
Ooh iya ada lagi nih, perang melawan ujian tengah semester sudah menghadang, wah wah. Puyeng jadinya, belum lagi bahan ga lengkap, bahan ga rapi, catatan bergumpal-gumpal hehe maklum laki-laki biasanya bawaannya berantakan, dalam hal rapi-merapi.
Asssekkk.........jadi mahasiswa itu.....
Dan ingat teman inilah yang namanya proses, akhirnya pasti manis kok ^_^
“karena proses itu lebih penting daripada hasil”

                                                                           Yang mengalami : muhammad elhami
                                                                           Selasa : 4 april 2012
                                                                           16 : 21 PM

Selasa, 03 April 2012

Perempuan yang sederhana

_ _ _ _ _ _ _
Perempuan yang sederhana
Anggun dan sangat mempesona
Membuatku terpesona
Dan ku perhatikan saat dia disana
Diam dan tak diperhatikannya

    Hati berbunga saat melihatnya
    Seorang perempuan berkerudung itu telah menjadi cerita
    Senyumnya indah dipandang mata
    Saat bertemu ku hanya diam dan tak terlalu banyak berkata

Walau sekarang  tak ku dengar lagi cerita
Namun, aku selalu bercerita
Lewat puisi dan kata-kata
Yang akan menjadi sebuah karya cerita
Untuk aku simpan disetiap masa

    Semoga aku tak akan buta
    Karena aku memang sulit untuk melupa
    Suatu saat walau tak nyata
    Cerita ini tetap aku buka

Sampai kau membaca
Pada suatu masa
Yang tak seperti biasa
Karena aku yakin aku akan bisa
Semoga ceritaku nanti sampai padanya
_ _ _ _ _ _ _

ditulis ketika mengenal?.....
oleh : muhammad elhami
15 : 25 PM

Senin, 02 April 2012

Nongkrong diwaroeng garoeng

                                                          Nongkrong diwaroeng garoeng



Perjanjian malam senin itu aku batalkan karena lampu sudah menyala, aku ingin keluar hanya karena mati lampu, untuk menghilangkan kesendirian seharian ditempat ini. Sebagai gantinya malam selasa kami berempat, aku, ina, agung, dan arif sepakat untuk nongkrong di warong garoeng. Sekedar celotehan, membahas organisasi, sampai masalah hal-hal diri-sendiri. Kebetulan selasa ini kami akan mengadakan evaluasi media jurnal kampus, sedikit banyak kami persiapkan apa saja yang akan disampaikan saat evaluasi nanti.
Habis magrib, jam 7 lewat arif mendatangiku ditempatku, dan kami langsung go ke tempat tujuan yang kami sepakati, kami datang lebih duluan, sambil menunggu aku dan arif memesan kopi cappocino dan kopi milk yaah biar kami tidak ngantuk saja nanti saat ngobrol-ngobrol. Tak alam ina dan agung datang denga jalan kaki, langsung bergabung dengan meja kami yang paling ujung dan strategis.
Pertemua-pertemuan seperti ini sering kami lakukan, ditempat yang berbeda entah kenapa semua menjadi cair, menjadi cocok, dan menjadi sebuah keakraban. Apakah kami punya satu pikiran? Apakah kami punya satu tujuan yang sama? Dan apakah kami sama?
Aku rasa kami begitu banyak yang membedakan, aneh keberbedaan itu dapat melebur setelah kami semua terkumpul dalam sebuah tempat, dimeja, dirumah, dan ditempat manapun. Pembicaraan malam itu tak terlepas dari organisasi yang kami geluti, yakni lpm jurnal kampus. Kami merasa sebagai pemberontak, melawan, bahwa selama ini organisasi ini tak habis-habisnya hanya seremonial belaka dalam perjalanannya, hanya mencari arti sebuah nama, hanya mencari sebuah keasyikan.
Tapi mengapa semua seakan lupa apa yang telah kita sepakati bersama, tujuan organisasi ini seperti tak tertuju. Setiap harinya pikiranku selalu tertuju ke organisasi ini. Ahhhh melelahkan...
Aku juga ingin memikirkan diriku sendiri............
Hampir 1 jam lebih hanya membicarakan organisasi ini saja, organisasi yang membuatku dan kami semua berpikir untuk menjadikannya lebih baik.
“Yaa sudahlah el, kamu itu harus tegas dalam mengambil keputusan,” kata seorang perempuan yang hanya satu-satunya dirombongan kami ini ina.
Aku memilih diam saja, dan berpikir......
Malam mulai semakin ramai, dan larut. Pembicaraan kami pun mulai hampir habis. Dan beberapa pengamen juga silih berganti datang, menyanyi dan menghibur orang yang ada disana. Tak ketinggalan pengemis, pemintan sumbangan ahh ini hanya kedok saja bagaimana mendapatkan uang atau semacam penipuan lah. Aku memilih tak memberikan apa-apa. Aku biarkan berlalu........
Pemandangan seperti ini terus terjadi setiap malam di kota metropolitan kota banjarmasin.
Seharusnya persma itu seperti ini seperti rakyat kecil, rekreasi ketempat kumuh, ke tempat pemulung, ke tempat anak-anak jalanan, ke tempat orang miskin. Agar kita tahu, dan sadar inilah kehidupan disekitar kita. Untuk ditulis, untuk dilaporkan, untuk diberitahu kepada mereka yang berwenang.
“makanya sastra saja tak cukup, ekonomi juga el ditulis,” ujar agung
Aku mengangguk-ngangguk saja.
Air minum kami semua sudah mulai habis, ini menandakan kami akan beranjak dari tempat duduk dan langsung pulang.
Lega, penat, dan jalani saja. Aku mulai lelah kawan. Aku ingin bersama. Samakan pikiran kita untuk organisasi ini.
Sampai kita semua sadar dan aku tak ada lagi disini. Silahkan saja untuk dikenang atau tidak, karena perlawanan seperti ini tak akan kalian temui lagi disini.

                                                            Muhammad elhami
                                                            Selasa, 3 april 2012
                                                                 8 : 58 PM

Untung saja laptopku tak rusak, aku terjatuh di tangga karena mengurung se ekor kucing di sebuah tempat, dan kucing itu tetap aku biarkan terkurung.
“kita boleh terkurung dalam suatu budaya, terjebak dalam seremonial, dan hanya melihat dengan kasat mata saja. Jangan biarkan, Itu terlalu sempit kawan. Lihatlah lebih luas duniamu dengan membuka sedikit, mencobanya, menikmatinya, dan mencoba meneruskan itulah asyiknya membaca dan menulis” (muhammad elhami)
Apa hubungannya?.....mari kita berpikir....