Senin, 23 Juli 2012

Bocah Dicelah Hujan


Di celah-celah hujan
Dia terus berjalan
Menerobos dengan badan menggigil
***
Di celah-celah hujan
Ia berlari mencari naungan
***
Tangan kurusnya menggenggam logam ratusan
Hasil menjual suara juga air siang tadi
***
Setiap hari rupiah demi rupiah ia jemput
Demi mengisi atau hanya sekedar mengganjal perut
Tak peduli setiap kata kasar terucap
Setiap cerca yang mendera
Menusuk telinga
Mengoyak dirinya yang sebatang kara
***
Ia hanya tak ingin mati terlalu pagi
Ia hanya ingin menyambung sisa-sisa nyawa
Yang entah berapa kali hampir terputus
Bocah itu terlalu belia untuk menderita
Bergelut dengan aspal, juga asap-asap beracun kendaraan
Yang menyesakkan dada, menghitamkan paru-parunya
***
Bahkan ia tak tau siapa orang tuanya
“Dik masuklah kita minum susu di dalam
Mulai hari ini aku lah ayahmu
Dan istriku dia lah ibumu”

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar