Senin, 26 Maret 2012

Mimpi Dalam Kenyataan

                     Mimpi Dalam Kenyataan
    Dihari Wisata Redaksi Paperman 2012

Wajah-wajah melelahkan itu menjadi terobati, menjadi pengganti, menjadi ceria, menjadi menyegarkan dan menjadi sebuah keakraban. Ya agenda besar di hari kedua, Jum’at (22/3) di acara Pentas Pers Mahasiswa Nasional 2012 oleh Lembaga Pers Mahasiswa Jurnal Kampus Fakultas Ekonomi Unlam yakni Wisata Redaksi. Walaupun di serang mata yang kantuk akibat kelemasan dan kelelahan demi lancarnya acara, seluruh kru panitia Paperman 2012 dan ditemani oleh tamu-tamu istimewa yang hadir dari berbagai Lembaga Pers di Perguruan Tinggi yaitu  dari UKM Jurnalistik Untirta Banten sebanyak 2 orang, BEM Unpar Palangkaraya 4 orang, LPM Jelaga Stimik Indonesia 2 orang, dan LPM Sukma IAIN Antasari 1 orang sangat antusias menyusuri sungai di Banjarmasin.
Star yang dimulai dari siring Banjarmasin sebrang mesjid Sabilal Mutadin, mesjid kebanggaan masyarakat Kalsel. Habis shalat shubuh semua menanti 2 kapal klotok yang telah dipersiapkan oleh panitia beberapa hari yang lalu. Sekitar 40an orang panitia dan delegasi dibagi menjadi 2 sehingga masing-masing klotok ada 20 orang.
Aku masuk dalam rombongan dengan delegasi, “Baru pertama kesini kan bang, Banjarmasin ini dikenal dengan kota seribu sungai,” Kataku memberitahu kepada delegasi UKM Jurnalistik Untirta, Nelson dan Enjang yang nampak terkesima. “Baru pertama naik kapal klotok nih, di Banten tidak ada yang seperti ini,” Ujar Enjang.
Dua klotok mulai berjalan untuk memecah pagi yang lumayan cerah, matahari menampakkan diri dengan malu-malu dengan sinarnya yang menyehatkan. Semua nampak gembira, dan kelelahan seakan-akan terbang bersama lajunya klotok.
Aku dan yang lain memilih duduk di atas atap klotok itu agar bisa melihat kesana kemari pemandangan dan angin yang sepoi-sepoi. Kilatan-kilitan kamera digital yang dipegang oleh pubdekdok mulai menyambar kami yang berada diatas atap klotok. Enggan dan sayang sekali kalau moment ini dilewatkan begitu saja, yah dengan alasan kenang-kenangan dan untuk melepas kerinduan apabila nanti semua berpisah, moment itu masih bisa hadir lewat lembaran foto yang di jepret oleh panitia.
Nelson, Enjang dan teman-teman delegasi lain juga membawa senjata sendiri bagaimana untuk menyimpan moment acara ini dan terlebih mereka yang baru pertama kali ikut. Ada yang membawa kamera handycam, kamera pocket, handphone. Nelson misalnya dengan handycamnya dia mengambil gambar mukanya sendiri, walaupun agak narsis hehe. Dia begitu jeli melihat-lihat hal-hal yang ada di sekelilingnya. Mulai dari  rumah-rumah, kapal-kapal kecil yang membawa sayuran, sampai dengan orang-orang yang mandi di sungai. “Wooi temen-temen ada cewek cakep mandi,” Kataku kepada mereka. “Ehm haiiii,” Ujar Nelson memanggil kami pun jadi tertawa dibuatnya hahaha.
Kami semua terhanyut diatas air, sesekali kami menundukkan kepada, merebahkan badan, bahkan bersembunyi didalam karena klotok kami melalui jembatan yang rendah sehingga apabila kami duduk seperti biasa maka pasti akan kena besi bawah jembatan, wah wah bisa jatuh kami kalau kena lowong jembatan itu. Pemandangan demi pemandangan kami nikmati dan tak terasa kami sampai di sebuah lautan, oh bukan sepertinya danau, yaa danau barito tempat orang-orang masyarakat sana yang berjualan dengan tradisi kapal terapung. Sangat tradisional sekali, tak hanya transaksi dengan mata uang namun transaksi barter pun masih berlaku. “Seandainya kita datang kesini sekitar jam 6an pasti banyak banget penjual-penjual yang menggunakan kapal terapung disini untuk menjual dagangan,” Kataku pada Enjang yang asyik melihat-lihat pemandangan yang menurut aku asing baginya.
Kami sudah lama berjalan dan menyusuri, langsung saja awak klotok mencari-mencari warung untuk makan panitia dan delegasi. Warung pun kami temukan dan kami semua singgah dan  tetap berada diatas kapal. Warung yang bernama warung terapung ini menyediakan menu masakan, nasi sop, soto, rawon yang semua itu adalah masakan khas banjar. Delegasi Unpar, Banten, Sukma langsung meluncat ke kapal warung itu dengan tak sabar dan langsung memesan makanan. Sementara aku bergabung dengan delegasi Stimik memilih tetap bertahan di belakang klotok.
“Wal kami nasi sop saja dan teh es,” Aku memesan kepada Waldy ketua panitia. Lumayan lama menunggu akhirnya pesanan makanan kami datang, langsung kami masuk kedalam untuk makan ditemani krupuk, sambel dan kecap asin. Hemmm enak bangeet bagi yang laper hehe.
Setelah kenyang kami langsung menuju sebuah pulau yang tak asing lagi bagi warga Kalimantan selatan terlebih warga Banjarmasin, namun bagi delegasi ini pulau pertama dan tak pernah mereka kunjungi. Pulau kembang namanya, bukan kembang yang banyak tumbuh disini, namun monyet-monyet yang menjadi penghuninya. Aneh bukan pulau kembang kok penghuninya monyet hehe. Itu lah salah satu keunikan tempat wisata yang ada di Banjarmasin ini.
Baru kami menyentuh bibir dermaga penyinggah monyet-monyet itu sudah mulai berloncatan untuk meminta makanan, sontak saja mereka yang cewek berteriak ketakutan hehe, semua menjadi guruh karena suara-suara itu. Tapi tenang monyet-monyet yang ada disini aman-aman saja kok. “Mereka tidak mencakar atau menggigit tapi mereka hanya meminta makanan,” Ujar salah satu pawang monyet yang ada disana.
Aku melihat Nelson dan Enjang nampak ketakutan maklum baru pertama hehe. Setelah kami siap kami langsung berjalan masuk kedalam hutan monyet. Tak lupa aku beli kacang yang nantinya ku berikan pada monyet itu. Eh tiba-tiba baru beli kacang 5 bungkus. Monyet kecil langsung menyambar 1 bungkos punyaku. “Hei hei tenang broo tenang,” Kataku melucu. Aku coba berikan sedikit kacang untuk Nelson untuk memberikannya kepada monyet. “Gini bang cara kasih makannya, dia tidak menggigit kok,” Kataku sambil memberitahukan caranya. dan Nelson langsung mencobanya.
Makin ke dalam kami menyusuri monyet-monyet ini makin buas saja, Buktinya teman Nelson yang pakai kacamata si Enjang di ambil kaca matanya bahkan sampi dibengkokkannya. Waaah ini monyet ape hal ngambil kacamata orang. “Monyetnya tahu kalau kalian baru pertama kesini,” Kami sontak tertawa hahaha.
Untung saja pawang monyet membantu untuk mengambilkan kacamata Enjang dan al hasil berhasil. Enjang nampak masih menggetar pasca kacamatanya diambil dengan secara tiba-tiba. Habis itu kami langsung keluar dari hutan itu dan menuju dermaga untuk berfoto bersama buat kenang-kenangan. Selesai berfoto-foto kami segera kembali ke klotok dan pulang menuju sebuah tempat tujuan, tempat yang membuat kami menjadi akrab dan menjadi saling kenal “Wisma Banjar”
Aku terbangun, dan ah ternyata aku bermimpi tadi aku tertidur gara-gara kekenyangan dan mungkin karena kelelahan. Kapal klotoknya sudah sampai siring. Aku langsung saja keluar. Hemm aku sempatkan untuk mencuri pandang pada seorang gadis manis itu. Hehe aku jadi teringat masa-masa paperman 2010 dulu. Aku Sering mencuri pandang akan wajahnya yang manis. Dan sesekali dari senyumnya yang manis aku curi. (*)
Karya : Muhammad Elhami
LPM – JURNAL KAMPUS FE UNLAM
Banjarmasin, 22 Maret 2012
14 : 21 PM




Tidak ada komentar:

Poskan Komentar