Kamis, 21 Juni 2012

E Atau D


Semua lagu yang ada di laptopku aku pilih lagu-lagu penyemangat, aku mulai lagu yang aku dengarkan dari gigi-sang pemimpi waaw keren. Tau ga kawan kenapa saat ini aku memilih lagu-lagu penyemangat biasanya aku selalu mendengarkan lagu yang menostalgiakan aku kedunia yang aku sukai dan aku kenang. Kali ini aku benar-benar diuji kesabaran diri. Aku tak masuk satu mata kuliah didalam final test perilaku keorganisasian, dan anehnya aku aktif diorganisasi. Tidak sesuaikan mata kuliah perilaku keorganisasian aku ga masuk. Ini human error kawan, kesalahanku sendiri. Aku salah jadwal.

Paginya aku sangat santai sekali, pagi seperti biasa-biasanya, tak banyak pikiran padahal ada saja yang aku pikirkan. Karena jadwal yang aku lihat itu hari sabtu, jadi aku final hari sabtu untuk mata kuliah perilaku keorganisasian. Aku lapar dan aku memutuskan untuk mengambil uang di ATM untuk makan dikantin kampus. Tidak tau sama sekali. Aku makan nasi kuning, dengan minuman kopi es plus pisang goreng. Santai sekali tanpa beban. Makananku habis dan aku melihat orang-orang yang aku kenal keluar dan menuju kantin.

“bos final apa tadi,” aku bertanya. “perilaku keorganisasian?,” heeeeeiii aku terkejut namun berusaha tenang dan seolah-olah biasa-biasa saja, aku bergegas bayar dengan uang 50ribu. “nati saja bayarnya,” kata ibu kantin. Aku langsug berlari keruang sekre jurnal kampus mengambil senjata, senjata yang hanya boleh dibawa saat pertarungan pikiran dikelas. Aku menuju ruang dua dengan berlari tenang dan aku gelabakan menacari no berapa dudukku. “elhami kenapa ga masuk?” suara vitha memanggilku. “no berapa aku vit,” aku main kacau namun tenang lagi “no 14 elhami ruang 2,”. Aku membuka pintu dengan tenang dan sesantai mungkin.

“boleh masuk bu,” tidak bisa, tapi kan waktunya masih ada bu,” “kan sudah ada yang keluar,” yaah aku keluar duduk dibangku menunggu panitia ujian keluar. Dan aku anggap semua ini seolah-olah bukan masalah. Aku mangais-ngais masa lalu. Ternyata aku baru pertama mengalami hal ini. Seperti inikah rasanya. Tidak ikut final test.  Setengah jam aku termenung saja dibangku, apakah bisa disusul. Aku berujar tugas apapun yang dikasih dosen yang bersangkutan pasti akan aku laksanakan. Tenang kawan, ini bukan akhir

Lagi-lagi aku meneropong kedepan, waah nilaiku semester ini bisa turun huuuuh aku menghela nafas agar semua beban ini hilang seiring hembusan nafasku. Sesudah semua kelas kosong dan hampa dengan orang-orang hanya dua panitia yang sibuk mengumpulkan kertas-kertas yang sepertinya berharga yang berasal olah pikiran manusia. Yaa kertas itulah yang akan menjadi nilai matematis dan kertas itu tidak bisa menentukan apakah itu jujur atau tidak. Kertas itu hanya bukti, kertas itu hanya simbol sebuah pendidikan sekrang ini.

Aku bertanya lagi apakah bisa disusul ibu, tidak tau kamu tanya pak saleh ketua panitia. Jawaban yang seadanya menandakan bahwa final test itu seolah penting dan apakah tidak bisa digantikan. Ada benarnya karena itu hanya pengawas ujian. Tak berlama-lama aku mengejar lari mencari orang no 4 dikampus ini yaa pak saleh. Bolak balik aku keatas dan kebawah, akhirnya aku berhenti diruang 4.
Pak ulun mau melaporkan bahwa ulun tidak masuk ujian apakah bisa disusul. Alasan kamu apa dulu. Ulun salah nulis jadwal pak. Kalau itu sudah harga mati tidak bisa disusul kecuali kesalahan dari fakultas. Beberapa kali aku menanyakan dan akhirnyaa aku yakin, aku yakin semua ini tidak bisa diulang. Terima kasih pak aku meninggalkan dengan tenang, tenang menerima takdir ini.

Ini sebagai momentum perbaikan diriku. Entah ini ujian atau memang ada sesuatu dibalik ini aku tak peduli. Aku serahkan nilaiku pada Allah, karena aku sudah berusaha semaksimal mungkin untuk nilaiku, hanya saja dipertarungan ini aku absen. Hei kawan, kamu ingatkan apa kata penceramah di isra mi’raj kemarin “semua yang bisa diukur dengan nalar ukurlah, tapi apabila ada sesuatu yang tidak bisa diukur denga nalar, serahkan lah semua pada Allah” aku rasa ini ada hubungannya dengan keadaan diriku sekarang dan apa yang aku alami sekarang. Final test yang  bisa diukur dengan nalar akhirnya aku patahkan sehingga aku tak menggunakan nalar. Pastilah nilainya E atau D hehe.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar