Selasa, 09 Oktober 2012

Malam


Malam dimaknai oleh sebagian orang hanya waktu untuk melepaskan diri dari segala aktivitas dihari siang, malam juga dikatakan sebagai ketakutan bagi mereka yang mempercayai takhayul, dan lebihnya lagi malam adalah kegelapan yang hanya sedikit dihargai. Kala ia datang semua manusia menutup pintu dan menetap diruang tamu atau ruang bersantai, mencoba mencari siang dengan lampu-lampu listrik yang hanya menyala pada waktu malam. Dihidangkan dengan sebuah kotak mesin yang berbentuk persegi yang didalamnya ada gambar bergerak yaitu televisi. Yang mampu menggerakkan siapa saja yang melihatnya. Hingga tercipta budaya dalam diri lalu dibawa ke masyarakat.

Malam itu begitu meleburkan dan menyenangkan dengan suasana berkumpul, selain itu malam juga menyediakan tempat yang begitu indah kalau sedikit saja kita mau menikmati. Malam mampu menyediakan hal-hal yang tidak ada di siang hari. Berbeda bahwa siang hari lebih disibukkan dengan suara hiruh pikuk suara manusia bercampur dengan suara-suara mesin. Belum lagi siang juga menawarkan panas yang sangat amat, tentu itu juga olah tangan manusia. Hingga kembali lagi, rumah menjadi tempat alternatif untuk bersinggah sejenak untuk mengusir panasnya matahari.

Malam mampu meredup dan menawarkan suasan asri, menyejukkan dan begitu menyenangkan, leluasa untuk berdamai dengan keadaan. Tempat untuk mengevaluasi apa yang terjadi disiang hari, dan merencanakan aktivitas buat besok. Tapi malam sering diabaikan banyak manusia yang hanya bersia-sia menikmati tanpa menghadirkan makna didalamnya. Sungguh malam merupakan tempat perenungan yang ampuh bagi mereka yang mau merenungkan diri tentang diri sendiri dan barangkali orang lain bahkan Tuhan.

Sunyi senyapnya hadir untuk memanggil orang-orang yang mau merenung, agar malam tak begitu saja dilewatkan. Mendamaikan pikiran yang lusuh dan kusut, mengobati duka lara yang menghinggapi manusia. Dan kembali menata hidup yang selalu saja berantakan. Aku rasa malam itu adalah awal kita untuk menghadapi hari baru. Ia menyediakan ruang lebih.

Bagiku malam adalah waktu-waktu yang selalu aku tunggu, melepas semua lelah yang sangat amat badan maupun pikiran. Mengundang rindu-rindu pada orang-orang yang dicintai, mengenang masa-masa lalu agar dapat mengambil pelajaran, kemudian berusaha berkelana melalu buku bacaan dan musik. Menghayal agar hati ini senang.

Lengang dan tenang sekali rasanya menjalani hidup. Dan tak lupa kita harus memandang orang-orang bawah yang sampai saat ini juga aku rasa mereka setiap saat pada malam hari selalu mengadu pada Tuhan, dan disiang hari mereka mengadu pada hidup yang apatis dan pragmatis, tanpa duli peduli terhadap sesama. Orang bawahan kerap dipaksa oleh kehidupan. Bagi mereka malam merupakan tempat berisitirahat. Agar Tuhan mau memperhatikan mereka.

Aku rasa menjadi manusia biasa akan lebih mengasyikkan, bukan biasa-biasa saja. Ada saja hal yang akan membuat kita menjadi luar biasa. Bukan ditengah masyarakat, bukan ditengah manusia. Hanya saja luar biasa dalam perjalanannya, menuju keluar dari dunia sulap Tuhan. Dan malam lebih banyak menyediakan itu.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar