Minggu, 01 April 2012

"Aku Ingin" Cinta yang Sederhana

                                                       "Aku Ingin" Cinta yang Sederhana
                                          oleh Fathul Qorib pada 22 Maret 2012 pukul 18:07



Sering kita mendengar orang bersyair mengenai kekasihnya dengan rendah hati. Tidak ada pecinta di dunia ini yang membiarkan dirinya merasa sombong di tangan kekasihnya. Maka itulah puji-pujian kepada kekasih menjadi begitu melankolis. Dan cinta ini tidak bisa dipisahkan antara mencintai perempuan, mencintai Tuhan, ataupun cinta persahabatan. Meskipun pola perilakunya berbeda, ada satu prinsip yang mesti sama dalam hal ini yaitu :cinta itu sederhana.

Kesederhanaan ini tidak sama sekali berarti miskin. Karena kita tahu sendiri bahwa sederhana dalam pengertian yang umum juga tidak berarti miskin. Sederhana tidak berbading terbalik ataupun berbanding lurus dengan miskin ataupun kaya. Belum tentu orang miskin bisa bersikap sederhana, begitu jupa orang kaya jarang bisa bersikap sederhana. Maka cinta bukanlah hal yang bisa dihitung, kaya cinta - miskin cinta, tidak mesti begitu. Cinta adalah kesatuan. Ia bersifat abstrak dan orang yang sedang menggenggamnya bisa jadi merupakan yang paling bahagia atau paling sengsara.

Namun demikian, yang mampu mengungkapkan rasa cintanya dengan begitu menakjubkan hanyalah seorang penyair. Karena dalam syair (puisi) kalimat akan teruntai begitu indah dan dalam. Perasaan akan diterjemahkan menjadi sesuatu indah, multi makna, dan sangat halus. Kalimat-kalimat puisi sebenarnya bisa diterjemahkan secara aqliyah, namun disana kita tidak akan menemukan kenimakatannya. Hanya puisi yang mampu dicerna “hati pembaca”lah yang akan kekal.

Sekarang, saya ingin mengajak pembaca untuk meresapi sebuah puisi cinta yang sengaja saya pilih. Pilihan ini bisa bersifat subyektif, bisa juga bersifat obyektif, tergatung dari mana kita akan memandang. Namun dalam hal ini, saya tidak ingin mengintervensi dalam mendedah puisi tersebut, karena kita tahu sendiri, saya bukanlah kritikus puisi. Jadi penekanan saya, bahwa puisi ini adalah karya agung yang mampu diciptakan oleh penyair sekaligus guru besar sastra Indonesia, Sapardi Djoko Damono, yang menciptakan “Aku Ingin”.

Aku Ingin
Pertama, kita akan memperhatikan lirik “Aku Ingin” dahulu :

Aku ingin mencintaimu dengan sederhana
Dengan kata yang tak sempat diucapkan
kayu kepada api yang menjadikannya abu
Aku ingin mencintaimu dengan sederhana
Dengan isyarat yang tak sempat disampaikan
Awan kepada hujan yang menjadikannya tiada

Diakui ataupun tidak, kalimat-kalimat puisi diatas juga ternyata sangat sederhana. Bahkan diksi yang digunakanpun bukan diksi yang berbelit ataupun multiinterpretatif. Kata-kata yang dipilih adalah kata-kata standar dalam kehidupan sehari-hari. Ada aku, ada mencintaimu, ada sederhana, ada kayu, ada api, ada sederhana, ada awan, dan semuanya.

Disana juga tidak terdapat diksi yang cenderung “puitis” seperti kata ambrosia, soliloqiui, kidung, dan lain-lain sebagaimana puisi-puisi yang lain. Kalaupun ada kata yang teramat sering mampir ke puisi seperti hujan dan isyarat maka itupun diucapkan dengan kesederhanaan. Hujan disana berarti hujan, isyarat juga berarti isyarat, tidak berkonotasi kepada sesuatu yang tersembunyi.

Begitupula peristiwa yang dijadikan rujukan atas nama cinta yang sederhana. Peristiwa tersebut hampir pernah –bahkan sering– terjadi dalam kehidupan kita sehari-hari. Tentang awan dan hujan yang saling meniadakan, ataupun tentang tentang kayu yang dilahap api sehingga menjadi abu. Begitulah kesederhanaan puisi Sapardi. Namun dibalik kesederhanaan itulah letak kekuatan yang dahsyat mengenai konsep percintaan, antara pecinta dengan objek cinta, antara sebab dan akibat, antara pengorbanan dan kesetiaan.

Puisi ini ingin menyampaikan sesuatu yang suci kepada para pecinta, bahwa mencintai bukanlah perkara diterima atau tidak. Bukan pula masalah berani mengungkapkan ataupun tidak. Kata-kata dalam masalah cinta, jika tidak tepat dalam menggunakannya maka akan memperburuk citra cinta itu sendiri. Lihatlah dalam puisi bagaimana tokoh aku yang ingin mencintai kekasihnya, layaknya kata yang tidak pernah sempat diucapkan oleh kayu kepada api sehingga kayu tersebut menjadi abu. Kayu yang dilumat, dilahap, dibakar, di sakiti, dihancurkan, diinjak, hingga menjadi abu, itu ternyata masih menyimpan cinta yang tak pernah sempat ia ucapkan kepada kekasihnya yang menghancurkan fisiknya. Fisik boleh menjadi abu, perasaan boleh gentar dan lumat, tapi cinta sejati tidaklah tamat. Boleh jadi, ia semakin tumbuh dan berkembang, menjadi harapan yang kelak meyelamatkan kehidupan si–kayu.

Apa yang terjadi pada kayu juga terjadi pada awan yang diusir hujan. Namun si-awan tidaklah pernah memiliki kesempatan untuk mengisyaratkan bahwa ia mencintai sang hujan. Meskipun awan ditiadakan (dibunuh dan diusir) oleh hujan, awan tetaplah menyimpan segala duka, segala cinta, sehingga tidak pernah sekalipun awan akan menghentikan cintanya kepada hujan.

Begitulah cinta sejati yang seharusnya dijadikan modal pengetahuan oleh para pecinta yang telah bersedia mati untuk kekasihnya. Cinta bukan hal main-main. Laki-laki sebagai makhluk yang lebih banyak mengumpar kata-kata cinta seharusnya memahami bagaimana logika cinta. Bacalah beberapa buku mengenai cinta agar kita tidak tersesat. Bahwa cinta itu harus meliputi care, responsibility, respect, dan knowledge –itulah unsur cinta menurut Fromm, tokoh cinta barat. Perempuan yang digoda lelaki dengan seribu puisi juga harus mengetahui mengenai cinta sejati. Bahwa tidak hanya gairah (passion –mengarah kepada hasrat, nafsu) yang diumbar oleh para pecinta, tapi juga harus ada intimacy (keakraban –seperti seorang sahabat) dan commitment (janji, ikatan, pernikahan, dsb). Jika lelaki masih belum bisa menjalin komitmen kepada perempuannya, maka saya sarankan kepada perempuan untuk berhati-hati. Karena apa?
Dalam film Before Sunset (sekuel kedua setelah Before Sunrise) dikatakan oleh tokoh perempuan bahwa “lelaki itu sangat mudah disenangkan”, yang berarti, semarah apapun laki-laki, ketika dicumbu untuk melakukan hubungan intim, maka kemarahannya akan selesai. Dan sepanjang pembicaraan kedua tokoh ini (film ini mengumbar pembicaraan dengan sedikit aksi), yang difikirkan oleh laki-laki hanyalah hubunga seks. Sangat laki-laki, dan si perempuan hanya ingin bahwa pertemuan mereka tersebut hanyalah untuk bersenang-senang, tanpa memikirkan cinta apalagi seks. Wanita selalu mau bermain aman, dan lelaki selalu ingin menjerumuskan diri.

Demikianlah dalam puisi “Aku Ingin” menggambarkan dengan implisit namun lugas bagaimana seharusnya seorang kekasih bersikap kepada kekasihnya. Sejalan dengan kalimat Sapardi (kata yang tak sempat di ucapkan, isyarat yang tak sempat disampaikan), Plato memiliki ungkapannya sendiri, bahwa : “Cinta yang paling agung adalah cinta yang tidak pernah diungkapkan”. Lalu saya tiba-tiba sadar bahwa hal tersebut memanglah benar. Semoga pembaca mampu menangkapnya.

Bangkalan, 22 Maret 2012

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar